BKSDA: TERINDIKASI MASIH ADA PERBURUAN GADING GAJAH

Banda Aceh, 13/11 (Antara) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh mengindikasi masih ada aksi perburuan gading gajah Sumatera di wilayah hutan di Provinsi Aceh meski hingga saat ini pelakunya belum tertangkap.

Kalau indikasi perburuan gading gajah itu masih ada, tapi kita belum bisa membuktikan dengan menangkap pelakunya," kata Kepala BKSDA Aceh Amon Zamora di Banda Aceh, Rabu.

Konflik manusia dan gajah di beberapa kawasan di provinsi ujung paling barat Indonesia itu dikarenakan binatang dilindungi tersebut terusik dari habitatnya di hutan belantara Aceh, kata dia menambahkan.

    
Oleh karena itu, Amon Zamora mengatakan pihaknya bekerjasa sama dengan aparat kepolisian (Polres) di seluruh Aceh dalam upaya penegakan hukum untuk mencegah perburuan gajah dan satwa liar yang dilindungi lainnya di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.

    
Salah satu wujud kerjasama BKSDA dengan pihak kepolisian adalah melakukan penyelidikan atas kematian gajah jantan dewasa di Kecamatan Sampoinet, Kabupaten Aceh Jaya. Dari penyelidikan itu telah ditindaklanjuti dengan mengajukan berkas perkara berikut sebanyak 14 tersangka ke kejaksaan negeri Calang.

    
Gajah jantan dewasa ditemukan tewas yang diduga sengaja dibunuh untuk diambilkan gadingnya. Kemudian hasil pengembangan penyelidikan polisi, para tersangka menyerahkan gading gajah itu seberat 18,1 kilogram kepada pihak kepolisian Aceh Jaya.

    
Saat ini, dia menyebutkan populasi gajah sumatra yang mendiami kawasan hutan Aceh hingga perbatasan Provinsi Sumatera Utara tercatat berkisar 350 sampai 400 ekor.

    
"Kami terus berupaya menjaga jangan sampai binatang dilindungi itu bisa punah akibat perburuan atau juga berkonflik dengan manusia yang berdiam di pedalaman kawasan pinggir hutan di Aceh," katanya menambahkan.

    
Dipihak lain, Amon menjelaskan belum redanya konflik gajah dengan manusia di beberapa tempat di Aceh itu akibat terusiknya jalur yang puluhan tahun sebagai tempat melintasnya satwa berbelalai panjang tersebut.

    
"Jalur yang telah digunakan puluhan tahun oleh gajah itu tiba-tiba jadi areal perkebunan, sehingga gajah terusik dan memporak-porandakan kebun-kebun milik rakyat. Itu juga menjadi pemicu konflik satwa dan manusia di Aceh," katanya dia menambahkan.  (Azhari)
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini