Lokasi Dirham Harus Segera Diblok

     Parlementaria DPRK Banda Aceh

UNTUK menghindari konflik dan  preseden buruk di Gampong Pande, Kuta Raja,  Banda Aceh, yang kini heboh dengan penemuan puluhan bahkan ratusan keping Dirham (uang koin emas) dan dua bilah pedang yang bertuliskan VOC, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Kota Banda Aceh, H Iskandar Mahmud, SH meminta, Pemko Banda Aceh segera memblok atau menutup total lokasi tersebut untuk siapapun.

Permintaan itu, disampaikan anggota dewan dari komisi B  yang membidangi  Kesra dan Keistimewan Aceh ini, agar lokasi itu jadi aman.  Karena, selama beberapa hari terakhir ini, mulai ada benturan-benturan kecil antara pemuda gampong dengan warga yang ingin mencari koin emas di kawasan bekas kerajaan Aceh itu.

“Saya berharap, antara Pemerintah Aceh dan Pemko Banda Aceh harus sinergi untuk menyelamatan situs kerajaan Aceh, sehingga tidak muncul konflik baru disana.Perlu segera diblok atau ditutup total bagi siapapun tanpa kecuali. Jangan pilih bulu, tapi berlaku umum,” ungkap politisi dari Partai Golkar ini tegas.

Untuk itu sebut Iskandar, lokasi tersebut harus dijaga oleh aparat keamanan dengan melibatkan warga Gampong Pande. Pihaknya, senang  mendengar pernyataan Camat Kuta Raja, Yusnardi, SSTP bahwa pihak muspika sudah membackup keamanan akses masuk ke lokasi penemuan dirham yang selama ini sangat eksis dikawal oleh warga gampong.

Pemko harus serius menyelamatkan situs sejarah di Gampong Pande, yang kini  mulai diincar para dukun dari luar kota, sebagaimana dilansir sebuah harian di Aceh, Minggu (17/11). Mereka, mungkin ingin memburu harta karun peninggalan para raja-raja Aceh yang sangat mahal nilainya itu, dengan caranya sendiri – dengan bakar meunyan atau dengan cara-cara mereka. Untung, warga gampong menghalau para dukun itu.

Hasil buruan warga sebelum lokasi ditutup yang kini disita pemko, Iskandar Mahmud menyarankan agar diberi hak kopensasi kepada penemunya – apakah melalui musyawarah atau sesuai dengan aturan yang ada.
“Itu hak warga, karena sebelumnya daerah itu bebas untuk umum. Jadi hak penemunya tetap diberikan. Kedepan setelah ditutup, pasti tidak lagi yang mencari – kecuali pencuri. Ya, harus dihukum,” paparnya.

Gampong Pande oleh Pemko Banda Aceh dalam Hari Ulang Tahun (HUT) lalu, sudah ditetapkan sebagai Titik Nol Kota Banda Aceh. Penetapan tersebut berdasarkan  bukti-bukti cacatan sejarah dan jejak-jejak peninggalan  kerajaan Aceh. Kini, setelah penemuan ini membuktikan bahwa sejarah Kerajaan Aceh disana benar-benar ada. 
Iskandar menyarankan, agar semua koin emas yang temuan warga dibeli oleh pemerintah, agar benda sejarah yang sangat mahal nilainya itu, tetap berada di Aceh.

“Saya turut prihatin dan khawatir, kalau koin emas itu dijual bebas. Bisa jadi dibeli pihak luar, sehingga benda purbakala yang penuh nilai sejarah itu hilang ke negara lain. Pemko Banda Aceh, harus cepat meresponkannya untuk menyelamatkannya,”tutur Iskandar.

Koin emas itu merupakan artefak Aceh yang tidak boleh diperjualbelikan - sebagai  identitas Aceh yang dilindungi Undang-Undang Cagar Budaya atau Purbakala.

Penemuan emas di Gampong Pande, bisa memotivasi banyak orang mencari benda-benda bersejarah lain di kampung yang hancur diluluhlantak tsunami tahun 2004 lalu. Untuk itu patut diwaspadai karena benda-benda sejarah yang ditemukan nanti, bisa dijual bebas.

“Kita tidak mau terulang  seperti peninggalan sejarah Samudera Pasai, Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yang terletak di Aceh Utara. Banyak benda-benda sejarah yang ditemukan warga saat penggalian tambak lalu dijual bebas, sehingga hilang begitu saja. Padahal, sejarah itu bisa memajukan pariwisata dan menarik turis-turis mancanegara datang ke  Aceh”. (adv)
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini