Mengembalikan martabat roman islami setelah Buya Hamka

Jakarta (ANTARA News) - Salah satu begawan sastra Indonesia Goenawan Mohamad pernah mengatakan, "untuk reformasi saya tak menulis puisi. Saya menulis pamflet dan selebaran untuk aksi."

Tidak semua orang setuju dengan gagasan Goenawan mengenai keterpisahan sastra dan politik tersebut. Pramudya Ananta Toer dan Sutan Takdir Alisyahbana misalnya, mereka menulis dengan tujuan besar untuk mengubah sejarah Indonesia.

Dan kini salah seorang penulis muda bernama Rizki Affiat mengikuti jejak Pramudya dengan menulis roman pendek berjudul "Pelangi di Musim Semi", dengan perspektif yang tidak hanya mengangkat polemik budaya di Indonesia melainkan persoalan politik internasional Palestina.

"Pelangi di Musim Semi" mengungkapkan secara eksplisit pemaknaan ideologis Rizki soal "jihad", Palestina, Islam, dan religiusitas.

Meskipun dapat digolongkan sebagai sastra religius, "Pelangi di Musim Semi" dengan jelas bisa dibedakan roman-roman Islam picisan lain seperti "Ayat-Ayat Cinta".

Novel Rizki jauh lebih ambisius. Dia tidak hanya menceritakan soal cinta segitiga--yang sayangnya klise--antara tokoh utama Omar dengan gadis Amerika bernama Anais dan teman masa kecil di Jakarta, Rana. "Pelangi di Musim Semi" juga bercerita soal orang Indonesia yang merasa perlu berjihad ke Palestina disertai gambaran tidak kebalnya dunia akademik dari pengaruh politik.

Tokoh utama Omar Khaled adalah pria Indonesia keturunan Palestina lulusan Universitas Harvard. Rizki membentuk karakter sang antagonis sebagai pemuda dengan pergulatan identitas yang merasa perlu untuk menelusuri jejak masa lalu sampai ke Deir Yassin, kampung halaman kakek Omar sebelum terusir pada masa-masa awal pendudukan Israel tahun 1940-an.

Latar belakang Omar yang berdarah Palestina dan berpendidikan Barat membuat dia menjadi pribadi yang unik. Tidak seperti umumnya intelektual Islam lulusan Amerika Serikat yang liberal soal agama, Omar secara radikal mengatakan bahwa jihad fisik masih diperlukan.

Di sisi lain, alih-alih mengutip wahyu Tuhan sebagai pembenaran seperti laiknya para ekstrimis, Omar justru menggunakan pemikiran tokoh intelektual Barat seperti Noam Chomsky dan Edward Said untuk mendukung gagasannya soal jihad.

Dengan karakter tokoh yang tidak disederhanakan, ide cerita yang bisa dinilai sebagai terobosan bagi novel bergenre Islami, dan latar yang kompleks (Boston, Jakarta, dan Jerusalem yang dideskripsikan secara mendetail oleh Rizki lengkap dengan perbedaan konteks budayanya), "Pelangi di Musim Semi" seharusnya berpeluang besar menjadi bahan bacaan yang berkesan.

Bahkan dalam ungkapan yang sedikit hiperbolis, cerita Rizki berpotensi menjadi awal kebangkitan roman Islami--harus ditegaskan kembali yang dimaksud di sini adalah "roman" dan bukan "puisi" ataupun "cerita pendek"--yang akhir-akhir ini selalu dipandang sebelah mata oleh elit-elit sastra di Jakarta.

Sejak "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" karya Buya Hamka yang terbit 40 tahun yang lalu, memang hampir tidak ada lagi novel Islami yang mumpuni, diapresiasi secara luas, dan dijadikan sebagai bahan ajar di sekolah menengah. Secara kuantitas fiksi bernuansa religi terus menjamur, namun kualitasnya tidak jauh berbeda dengan sinetron kejar tayang.

Ide besar yang dibawa oleh "Pelangi di Musim Semi" mungkin dapat menjadi tonggak lahirnya penulis-penulis novel religius muda lain yang mempersiapkan ceritanya dengan matang dan tidak hanya menjual ayat-ayat Tuhan. Dengan ide Rizki, pembaca setia roman Islami mungkin mendapat sedikit harapan akan kembalinya martabat yang telah hilang pasca Hamka.

Namun sayangnya, novel Rizki hanya layak mendapatkan pujian pada tataran ide cerita (plus deskripsi latar) karena eksekusi penulisannya sungguh mengecewakan.

Dialog-dialog bertema berat yang ditampilkan terkesan sangat dipaksakan untuk menampung pretensi pribadi Rizki dalam menjawab seluruh pertanyaan soal spiritualitas, Islam, dan Palestina. Mengikuti perbicangan antar tokoh dalam "Pelangi di Musim Semi" hampir tidak bisa dibedakan dengan membaca jurnal ilmiah dan opini di surat kabar.

Selain itu, Rizki juga tidak memaksimalkan momen-momen yang berpotensi menyentuh pembaca untuk terlibat secara emosional ke dalam alur. Sedikit contoh, bagian di mana Omar menceritakan niatnya pergi ke Palestina kepada Rana yang sedang hamil tua terasa datar dan tidak mengharukan.

Akibatnya, novel ini sepertinya menjadi cerita yang baru setengah jadi karena potensi besar yang dibawa "Pelangi di Musim Semi" belum dimaksimalkan oleh penulisnya.

Meskipun demikian, ada baiknya pembaca "Pelangi di Musim Semi" membandingkan novel ini dengan "Negara Kelima" milik ES. Ito. Dua karya itu memang sepenuhnya berbeda secara isi maupun gaya, tetapi di sisi ES. Ito dan Rizki adalah dua penulis muda yang sama-sama membawa gagasan yang relatif melampaui anak-anak muda seusianya.

Ide besar menguak misteri Atlantis dalam "Negara Kelima" ES. Ito menghadapi masalah yang sama dengan "Pelangi di Musim Semi". Banyak dialog-dialog kaku yang tidak mungkin ditemukan dalam dunia nyata dan kedua penulis sama-sama ingin menjejali pembaca dengan pendapat pribadi.

Namun beberapa tahun setelah menulis "Negara Kelima", ES. Ito menerbitkan buku keduanya "Rahasia Meede", sebuah karya sastra yang dipuji banyak kalangan. Novel tersebut juga menjadi nominator peraih "Khatulistiwa Literary Award" tahun 2008 dan hanya kalah oleh penulis yang cukup senior, Ayu Utami ("Bilangan Fu").

Penggemar novel Islami yang murung karena merindukan kualitas sastra seperti karya Hamka mungkin berharap Rizki Affiat setidaknya dapat mengikuti jejak ES. Ito.

Oleh: GM Nur Lintang Muhammad
Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © 2013
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini