Pemerintah Didesak Selamatkan Harta Karun Kerajaan Aceh

Warga mencari emas di muara Gampong Pande, Banda Aceh. (Salman Mardira/Okezone).
BANDA ACEH - Pemerintah didesak segera menyelamatkan 'harta karun' berisi kepingan emas diyakini dirham peninggalan Kerajaan Aceh, yang ditemukan warga di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Koin emas itu diyakini sebagai artefak sejarah atau benda purbakala.

"Itu merupakan artefak Aceh, artinya dirham itu sebagai bukti sejarah Aceh yang tidak boleh dibisniskan, diperjual belikan. Itu identitas Aceh yang dilindungi Undang-Undang Cagar Budaya atau Purbakala," kata penikmat sejarah dan kolektor benda kuno Aceh, Tarmizi Abdul Hamid kepada Okezone di Banda Aceh, Selasa (12/11/2013).

Koin-koin emas kuno itu kini mulai bebas dijual warga yang menemukan. Harga sekeping mencapai ratusan ribu. Dikhawatirkan benda bersejarah itu bisa hilang seketika atau lari ke luar negeri, jika tak segera diselamatkan. Karena bukan hanya kandungan emasnya yang bernilai jual tinggi, tapi nilai sejarah dari koin itu bisa dijadikan barang antik yang menggiurkan.

Menurutnya pemerintah perlu turun langsung mendata koin-koin tersebut, kemudian membayar kompensasi kepada masyarakat penemunya. Bila benda itu raib, maka pemerintah wajib bertanggung jawab atas hilangnya sejarah bangsa.

"Bisa saja masyarakat menjual, tapi pemerintah harus mengidentifikasi kepada siapa barang itu dijual. Jangan sampai penampunya menjual kembali ke luar, ini bisa hilang bukti sejarah Aceh," sebut Tarmizi.

Dia berharap pemerintah harus belajar dari kasus-kasus yang ada, dimana banyak bukti sejarah Aceh sekarang berada di luar negeri. Sementara generasi sekarang hanya tahu sejarah dari cerita atau buku, tanpa bukti otentik yang bisa ditemui.

"Ketika kita berbicara Kerajaan Aceh Darussalam, itu berbicara bukti. Sekarang salah satu bukti gemilang Aceh pada masa lalu sudah ditemukan dengan koin-koin dirham ini. Ini wajib diselamatkan," ujar pengurus Majelis Adat Aceh yang mengoleksi ratusan manuskrip kuno itu.

Pada masa lalu, cerita Tarmizi, Aceh sangat kaya. Ini ditandai dengan adanya tiga mata uang yang salah satunya adalah dirham terbuat dari emas. Dua alat tukar lain adalah dinar terbuat dari perak dan kueh terbuat dari timah. "Dirham digunakan sebagai alat tukar untuk orang dewasa, dinar dipergunakan oleh kaum remaja dan kueh untuk anak-anak," jelasnya.

Tarmizi menilai penemuan emas di Gampong Pande sekarang, bisa mendorong siapa saja untuk mencari benda-benda bersejarah lain yang diyakini banyak terdapat di kampung tua tersebut. Ini patut diwaspadai karena benda-benda sejarah yang ditemukan nanti, bisa dijual bebas di pasar gelap.

Dicontohkan seperti yang terjadi pada benda-benda peninggalan sejarah Samudera Pasai, Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara di Aceh Utara. Banyak artefak kuno Samudera Pasai yang ditemukan warga saat penggalian tambak atau mencari batu kuno untuk dibuat batu cincin bebas dijual bebas, sehingga hilang tak berbekas.

Padahal bila benda-benda sejarah itu bisa diselamatkan, nilai sejarahnya bisa dijual untuk memajukan pariwisata dan menggaet turis-turis datang ke Aceh. Selain itu benda-benda sejarah ini juga bisa membangun peradaban pendidikan baru. "Ini bisa mendorong para arkeolog atau ahli-ahli sejarah dunia melakukan penelitian di Aceh," ujar Tarmizi. (ydh)

Sumber: okezone.com 
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini