Perlu Ide Kreatif Bangun Syariat

  PARLEMENTARIA DPRK BANDA ACEH

MENANGGAPI telah disahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota (APBK) Banda Aceh  tahun 2014 sebesar Rp 1,1 Triliun, Jumat (29/11) lalu, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Razali S,Ag meminta, pemko harus mampu melahirkan ide-ide kreatif dalam membangun syariat Islam di ibukota Propinsi Aceh ini, ke arah yang lebih baik dan berkelanjutan.

Razali melihat pembangunan syariat, tidak hanya sebatas mendirikan Tempat Pengajian Anak (TPA) sebagaimana yang digalakkan selama ini – karena semua anak SD sederajat di Kota Banda Aceh pasti sudah bisa baca Al-Quran. Tapi, jauh lebih penting bagaimana caranya mengembangkan pemahaman isi kandungan Al-Quran ke semua jenjang warga kota.

“Banyak warga kota yang pandai baca Quran, tapi mereka tidak paham apa isi kandungannya. Padahal, dengan memahaminya – pasti tingkat keimanannya jauh lebih baik. Kedepan Pemko Banda Aceh harus memikirnya dengan ide-ide yang cemerlang bagaimana caranya, sehingga pembangunan syariat benar-benar bermanfaat bagi warga kota,” katanya.

Begitu juga berpakaian muslimah atau pakai jelbab, terkesan masih terjadi pemaksaan-  agar warga harus memakai dan bila tidak akan diberi sanksi. Kedepan, yang perlu dipikirkan - bagaimana  cara membangun kesadaran warga agar kota memakai pakaian muslimah itu, benar-benar lahir dari lubuk hatinya yang dalam – bukan karena dipaksa.

Dengan tumbuh kesadaran itu, kata Razali, akan lahir akhlak yang terpunji. Kesadaran tersebut harus ditumbuhkembangkan ke semua warga  mulai anak-anak, baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja dan juga di area publik. Bila ini tumbuh pada anak-anak  terus berkembang sampai dewasa. Maka, akan menjadi kebutuhan hidupnya sehari-hari sampai akhir hayatnya dan akan terwarisi dengan baik.

Selain itu, Razali mengharapkan dengan meningkat APBK setiap tahunnya – pemko harus bisa meningkatkan perekonomian warga kotanya. Apalagi, kini Kota  Banda Aceh sedang giat-giatnya mempromosi diri menjadi daerah tujuan wisata. Tapi, pemko belum mampu mewujudkan sebagaimana kota wisata di daerah lain di Indonesia – warganya ikut ketiban rezeki dari program wisatanya.

“Kalau Pemko Banda Aceh belum bisa mewujudkan seperti daerah wisata lain, jangan malu belajarlah. Atau cobalah bangun kerjasma saja dengan kota-kota lain di Indonesia, sehingga lebih banyak turis yang mau datang ke Banda Aceh  karena banyak yang diproleh di sini. Sekarang saya melihat, kita belum punya apa-apa sebagai daerah tujuan wisata,”urai anggota dewan dari PKS ini, prihatin.

Memasuki tahun 2014, pemko harus berani berbuat untuk mensejahterakan warganya. Sangat banyak koperasi, diantaranya ada koperasi wanita di Banda Aceh – yang jumlahnya jauh lebih besar dari kabupaten dan kota lain di Aceh. Namun, pemko belum serius mengarapnya potensi koperasi yang ada di ibukota Propinsi Aceh ini. Bila digarap, potensi di Banda Aceh bisa jadi model di Indonesia.

Contoh, di Depok, Jawa Barat, sebut Razali, setiap rumah ditanam sebatang pohon belimbing. Ternyata, sekarang hasil dari buah belimbing itu sangat membantu perekonomian masyarakat kecil di sana. Sementara, Kota Banda Aceh juga punya peluang yang sama untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih banyak dari Depok.

Namun, peluang itu, tidak mendapat dorongan dari pemko – sehingga “lumbung” rezeki yang dianugerahkan Allah dibiarkan begitu saja. Seperti Balai Inong, bila diberdayakan sangat baik dan cepat perkembagannya – kini hanya tinggal diberi pelatihan lalu dukungan modal sedikit  sudah cukup.

Mengenai dunia pendidikan,Razali mengingatkan, bukan hanya sebatas wajib sekolah saja. Tapi, bagaimana bisnis pendidikan bermutu benar-benar lahir  di Kota Banda Aceh ini. Banyak warga kota yang mampu, tapi  tidak dapat menyekolahkan anaknya di Fatih, mereka memilih sekolah di luar. Begitu juga anak kurang mampu yang berprestasi harus mendapat pendidikan di sekolah bermutu, sehingga anak-anak Aceh bisa bersaing di Indonesia bahkan ke luar negeri.

“Anak-anak Aceh ingin pinter dan juga  ingin bersaing diluar. Untuk itu, harus ada sekolah berkelas seperti Fatih lebih banyak  di Banda Aceh, sehingga mereka  tetap memilih belajar di kota ini. Kalau tidak.  Ya, mereka akan mencari keluar,”tutup Razali.(*) 
   

 
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini