Uni Eropa Bakal Lawan Koalisi Anti-Islam

Geert Wilders/Peter Dejong/AP
DEN HAAG -- Koalisi anti-Islam yang dibentuk Geert Wilders dan Marine Le Pen dinilai tidak akan mudah mewujudkan rencananya menguasai Uni Eropa. Misi politik Wilders dan Le Pen dianggap tidak populer kalau mengacu konstelasi politik di kawasan.

Deutsche Welle melansir, UE tidak berada dalam kondisi mengurusi persoalan sosial dan keyakinan selama krisis masih merontokkan perekonomian UE. Apalagi, pembentukan koalisi di parlemen UE memerlukan minimal 25 suara anggota.

Tony Brown dari Institut Urusan Eropa dan Internasional mengatakan, bergabungnya Netherland Party for Freedom (PVV) yang dipimpin Wilders dan French National Front (FN) yang dipimpin Le Pen baru mengumpulkan tujuh kursi. Perhitungan tersebut memunculkan anggapan bahwa koalisi rasis merupakan sensasi murahan.

Menurut Brown, koalisi partai konservatif sayap kanan hanya sekelompok kecil di antara partai-partai minoritas di parlemen UE. Kondisi yang ada, kata dia, tidak memungkinkan mereka untuk berpengaruh.

“Bisa saja kalau semua partai serupa di UE bersatu. Tapi, sulit, Eropa menolak rasisme,” kata dia seperti dilansir Washington Post, Kamis (14/11).

Wilders sudah mendapat penolakan dari partai sayap kanan di Kerajaan Inggris (UK). Pemimpin United Kingdom Independence Party (UKIP) Nigel Farage mengatakan, koalisi dengan Le Pen dan Wilders adalah kesalahan. UKIP termasuk anggota Europe of Freedom and Democracy (EFD), kelompok Eurosceptic kuat yang ada di parlemen Eropa.

Anggota parlemen Eropa asal Belanda Sophie in’t Veld mengatakan, pertarungan melalui pemilihan umum merupakan cara yang bagus untuk menantang kelompok sayap kanan dan pandangan-pandangan mereka. “Pandangan yang menurut saya sangat buruk,” kata dia.

Ketidakstabilan ekonomi memang menyulitkan prediksi bagaimana hasilnya karena ada ketidakpuasan terhadap cara EU bekerja.

Ketidakpuasan ini melahirkan akan mengubah konstelasi politik di EU. Veld mengatakan, dia merasakan ketidakpuasan ini di mana-mana. “Tapi, persoalan-persoalan lebih dalam dari sekadar kebencian terhadap Brussels,” kata dia seperti dilansir BBC.

Wilders dan Le Pen membentuk koalisi baru dengan platform bersama memurnikan bangsa Eropa dari para imigran dan Islam. Terbentuknya pan tersebut akan kembali mengancam keberadaan para imigran dan pemeluk Islam di Benua Biru.

Pertemuan keduanya membahas kerja sama menghadapi pemilu parlemen UE pertengahan tahun mendatang. “Kami sudah mengambil keputusan untuk bersama melawan dari dalam parlemen (UE),” kata Le Pen, seperti dilansir France24, Kamis (14/11).

Koalisi ini terbuka bagi semua partai konservatif sayap kanan lainnya di anggota Benua Biru. Le Pen dan Wilders merupakan dua tokoh rasisme paling berpengaruh di kawasan Eropa. Kiprah domestik dua politikus ini menyajikan propaganda anti-Islam dan antiimigran.

Sumber: ROL
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini