AS Tangguhkan Bantuan Tak-Mematikan Ke Suriah Utara

Ankara, 12/12 (Antara/AFP) - Amerika Serikat telah menghentikan semua bantuan tak-mematikan kepada  oposisi di Suriah utara setelah gerilyawan merebut pangkalan utama dan gudang milik Tentara Pembebasan Suriah yang didukung Barat, kata seorang pejabat AS Rabu.
      
"Kami telah melihat laporan-laporan bahwa pasukan Front Islam telah merebut markas besar Atmeh dan gudang milik Dewan Agung Militer (SMC), untuk itu kami jelas prihatin," kata TJ Grubisha, juru bicara kedutaan AS di Ankara kepada AFP.
     
"Karena situasi saat ini, Amerika Serikat telah menghentikan
pengiriman bantuan tak- mematikan ke Suriah utara," katanya.
      
Front Islam, pasukan gerilyawan Islam terbesar di Suriah, merebut depot milik FSA dekat perbatasan penyeberangan Bab el-Hawa dengan Turki pada Sabtu.
      
Kelompok ini juga mengambil kendali penyeberangan itu sendiri pada Selasa, kata Suriah Observatory for Human Rights (SOHR), satu kelompok pemantau.
      
Bantuan non-mematikan yang diberikan kepada pemberontak oleh Washington sudah termasuk kendaraan lapis baja, kacamata malam, laptop dan peralatan komunikasi canggih.
      
Grubisha mengatakan keputusan AS untuk membekukan bantuan tersebut tidak akan berdampak pada bantuan kemanusiaan yang dikoordinasikan oleh badan internasional dan organisasi non-pemerintah termasuk PBB.
      
"Kami sedang mengumpulkan fakta-fakta dan konsultasi dengan teman-teman dari oposisi Suriah mengenai  langkah selanjutnya dalam mendukung rakyat Suriah," kata Grubisha.
      
"Kami bekerja sama dengan Jenderal Idriss dan staf SMC untuk mencatat status peralatan dan persediaan AS yang disediakan untuk SMC," tambahnya, mengacu pada Dewan Militer Agung  FSA yang dipimpin oleh Selim Idriss .
      
Juru bicara Departemen Luar Negeri Jen Psaki mengatakan berita-berita bahwa "markas dan gudang milik SMC telah diambil alih itu tentunya sesuatu yang memprihatinkan."
 
Dukungan AS terhadap Idriss tetap kuat, katanya menekankan, dan meskipun itu belum jelas kapan pengiriman akan dilanjutkan, "itu menjadi kepentingan kita dan kepentingan masyarakat internasional untuk ... dan akan memberikan bantuan  melalui daerah ini secepat kami bisa."
 
"Tetapi kami ingin mengevaluasi keadaan di lapangan dan membuat
keputusan dari sana," tambah Psaki.
     
Front Islam dibentuk bulan lalu ketika enam kelompok bergabung dan berjanji untuk bekerja menuju pembentukan negara Islam. Ia telah menolak kewenangan FSA.
      
Turki pada Selasa menutup sisi perbatasannya di provinsi Hatay setelah Front Islam merebut pos Bab al-Hawa, kata para petugas bea cukai dalam pernyataan.
      
"Penyeberangan ke Suriah via Cilvegozu telah ditutup ... karena
bentrokan antara kelompok-kelompok pemberontak di Suriah," kata pernyataan itu.
      
Namun seorang pejabat kementerian luar negeri, saat dihubungi oleh AFP, mengatakan tindakan itu bersifat sementara dan tidak akan mempengaruhi pengungsi memasuki Turki.
      
Turki, yang keras menentang rezim Presiden Bashar al-Assad, telah menampung  sekitar 600.000 pengungsi akibat konflik Suriah dan telah  menjadi pangkalan  untuk pemberontak Suriah serta para tentara pembelot yang membentuk  FSA.
      
FSA adalah organisasi pertama pemberontak militer  yang muncul setelah demonstrasi-demonstrasi damai menentang rezim Bashar pada tahun 2011 yang kemudian berubah menjadi sebuah pemberontakan bersenjata.
      
Sejak itu, banyak kelompok lain bermunculan, banyak dari mereka dari kelompok Islam, yang beroperasi pada tingkat otonomi yang tinggi dari FSA, jika tidak benar-benar secara independen.
     
Perang saudara Suriah, yang telah menewaskan lebih dari 126.000 orang dan menyebabkan jutaan pengungsi, telah menjadi lebih rumit saat kelompok-kelompok jihad dan kelompok pemberontak lainnya bertempur tidak hanya terhadap Bashar tetapi juga satu sama lain.
   
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini