Banjir di Gaza Meluas

Banjir di Gaza memaksa ribuan orang mengungsi/ REUTERS
GAZA — Banjir di Jalur Gaza kian meluas. Lebih dari 5.000 orang telah dievakuasi dari rumah-rumah mereka yang rusak akibat banjir di wilayah Gaza utara. Hujan lebat yang turun sejak Rabu (11/12), telah menewaskan seorang warga Gaza. Badan Pekerja PBB untuk kamp pengungsian Palestina (UNRWA) mengatakan, sejumlah wilayah di Gaza utara merupakan daerah bencana. “Sejauh mata memandang, hanya terlihat air,” kata UNRWA.

Hujan deras selama empat hari menyulitkan akses ke rumah-rumah penduduk di wilayah tersebut. Ketinggian air mencapai dua meter, membuat permukiman warga hanya bisa diakses oleh perahu dayung. Akibatnya, banyak warga terjebak di dalam rumah-rumah mereka yang terendam banjir. Bahkan, banjir menewaskan seorang pria Palestina berusia 22 tahun. Pria tersebut tewas akibat menghirup asap setelah menyalakan api untuk penghangat rumahnya.

Chris Gunness, Juru Bicara UNRWA, mengatakan, daerah di dekat kamp pengungsi Jabaliya di Gaza utara telah berubah menjadi sebuah “danau besar”. Menurutnya, kini ribuan petugas UNRWA tengah mengevakuasi warga ke tempat penampungan PBB. Pemerintah Hamas di Gaza mengatakan, sebanyak 5.246 warga telah dievakuasi ke sejumlah tempat. Mulai dari sekolah-sekolah hingga sejumlah tempat lain untuk penampungan sementara dalam empat hari terakhir.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan, 100 orang warga mengalami luka-luka akibat banjir yang merusak rumah mereka di kawasan pesisir. Korban terluka akibat terkena benda jatuh dari bangunan yang rusak terendam air atau mengalami kecelakaan mobil.  Petugas mengevakuasi korban banjir  dengan perahu, truk militer, atau kendaraan berat lain.

Gaza yang berpenduduk sebanyak 1,8 juta jiwa juga telah mengalami pemadaman listrik selama 12 jam setiap hari. Hal ini terjadi sejak pembangkit listrik satu-satunya di wilayah tersebut dimatikan bulan lalu akibat kekurangan bahan bakar. Keterbatasan suplai bahan bakar dan pemadaman listrik bergilir turut menghambat proses penyelamatan.

Seperti diketahui, Gaza merupakan salah satu wilayah terpadat penduduk di dunia. Wilayah tersebut merupakan rumah bagi ribuan pengungsi miskin. Sejak blokade yang dilakukan Israel-Mesir, wilayah ini tak lagi banyak memiliki infrastruktur dasar.

Memang, awalnya blokade tersebut dilakukan sebagai upaya menghentikan masuknya senjata ke Gaza. Namun, pada kenyataannya juga menghentikan impor bahan bakar, bangunan, dan bahan kebutuhan dasar lainnya.

Dalam beberapa hari terakhir sejak badai terjadi, Israel membuka perbatasan dan mengirim sejumlah bahan bakar diesel sebagai pemanas. Mereka juga mengirim empat pompa air. “Setelah badai berakhir, masyarakat dunia harus melakukan tekanan untuk mengakhiri blokade Gaza,” kata Gunness. 

Republika Online
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini