Bupati Aceh Utara Pinjam Dana Luar Negeri Rp.1 Triliun

Ilustrasi/Dok:google
ACEH UTARA: Pola kepemimpinan Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib dan Muhammad Jamil, patut ditiru dan menjadi contoh bagi daerah lainnya. Pasalnya, pejabat politisi asal Partai Aceh (PA) terus mengejar pembangunan ekonomi di daerahnya. Hal itu ditandai telah berhasil melobi pinjaman mata uang asing sebesar Rp.1 triliun. 

Manajemen kepemimpinan Bupati Aceh Utara nyaris sama dengan bapak pembangunan RI atau mantan Presiden Indonesia, Suharto. Karena beliau pada saat itu terus berupaya melobi pinjaman dari luar negeri demi kebutuhan bangsa dan tanah air dalam rangka Indonesia membangun dari berbagai sector baik program jangka panjang maupun jangka pendek.

Begitu juga Bupati Aceh Utara yang akrab disapa Cek Mad, terus memperjuangkan berbagai cara demi kepentingan sekitar 600 ribu jiwa penduduk di bumi pase. Frekuensinya, masyarakat tentu memberi cap jempol kepada pemimpin yang baru menjabat lebih dari satu tahun lamanya, karena gagasan Bupati ibarat seorang ayah penuh tangung jawab kepada anaknya meski harus berutang pada tetangga supaya aman dan sentosa dalam rumah tangga.

Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib, yang didampingi Wakilnya Muhammad Jamil, dalam acara pertemuan sejumlah insan Pers di pendopo kemarin mengatakan, pinjaman luar negeri sebesar Rp. 1 triliun dari Negara Malaysia sudah ada kesepakatan antara negeri tetangga dan Kabupaten Aceh Utara.

Muhammad Thaib alias Cek Mad, menjelaskan, pinjaman mata uang Ringgit Malaysia dengan perjanjian pembayaran secara cicilan dan beban bunga lunak. Mata uang bergambar kerajaan Malaysia dengan kurs rupiah senilai Rp.1 trilun itu tercatat sebagai utang Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Utara.

Proses perjanjian utang piutang antara Negara Malaysia dan Pemkab Aceh Utara sudah oke, cuma kini tinggal menunggu proses administrasi tingkat pusat di jakarta melalui menteri dalam negeri, tambah Cek Mad, semberi mengatakan wakil Bupati, Muhammad Jamil, baru saja pulang dari negeri jiran Malaysia pengurusan pinjaman Rp, 1 triliun.

Menurut dia, mata uang kerajaan Malaysia nantinya akan digunakan untuk sector pertanian menyusul potensi lahan di sector tersebut sangat mendukung untuk meningkatkan produksi gabah petani. Sehingga mata uang Ringgit dengan harapan rakyat di bumi pase dapat menuju sejahtera.

Rencananya dari beberapa lini pertanian di aceh utara lebih diperioritas dibidang petani gabah apalagi di daerah ini akan dibangun pabrik pengilingan padi modern tersebesar tingkat asia dan sebagian besar sahamnya berasal dari salah satu Capres RI 2014, katanya.

Selain itu, lanjut Cek Mad, uang pinjaman luar negeri dari Rp.1 triliun nantinya akan digunakan juga untuk pembangunan kantor pemerintahan Aceh Utara di Lhoksukon sehingga proses pemindahan ibukota Aceh Utara dari Lhokseumawe akan secepatnya terwujud. (dau)

Sumber: BeritaSore.com
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini