Di Museum Ini, Kekuatan Kolektif Aceh Bangkit Kembali!



Pengunjung menikmati suasana di Gedung Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Rabu (20/2/2013). Selain berisi informasi tentang gempa dan tsunami, museum berlantai empat dengan arsitektur modern yang dibangun tahun 2007 tersebut juga diperuntukkan sebagai tempat evakuasi bencana alam. SERAMBI/M ANSHAR
Banda Aceh -Hari ini, sembilan tahun lalu, kita memperingati peristiwa duka tsunami yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah. Tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu tidak hanya menorehkan nestapa, tetapi juga kekuatan untuk bangkit kembali. 

Ketika prakarsa pembangunan Museum Tsunami Aceh mencuat, tekad bangkit kembali dari keterpurukan menjelma menjadi kekuatan kolektif. 

Menurut arsitek yang berbasis di Banda Aceh, Rachmatsyah Nusfi, pengembangan Museum Tsunami  merupakan representasi komprehensif atas ketabahan, kesabaran, sekaligus kekuatan masyarakat Aceh untuk melanjutkan kehidupan.

"Museum Tsunami merupakan simbol yang tidak sebatas pada terbentuknya pigura kenangan, melainkan juga sebuah kekuatan dengan dimensi lebih luas dalam memengaruhi kehidupan keseharian masyarakat Aceh yang disiplin mau bekerja keras serta religius," jelasnya.

Berlokasi di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh, museum ini buka setiap hari (kecuali Jumat) pukul 10.00-12.00 dan 15.00-17.00. Museum Tsunami Aceh dirancang oleh Ridwan Kamil, setelah  berhasil memenangkan sayembara desain museum yang diselenggarakan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Langgam arsitekturalnya mengadopsi rumah panggung (rumoh aceh) setempat yang dipadukan dengan gaya modern. Museum Tsunami terdiri atas struktur empat lantai dengan luas 6.000 meter persegi. Fasadnya terbilang unik, berupa dinding yang melengkung dan dilapisi relief geometris. 

Pengunjung dapat mengakses museum ini melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi. Dua dinding air ini dirancang untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar penari Saman.

Bergeser ke bagian atas, atapnya membentuk gelombang laut dengan focal point pada tonjolan bangunan menyerupai cerobong berbentuk silinder setinggi 33 meter. Melalui cerobong akan terpantul cahaya ke langit. Kamil menamakan cerobong ini dengan The Light of God, pertanda hubungan manusia dengan Tuhan.

Di museum juga ada terowongan yang menggambarkan suasana dukacita dan dinamakan dengantunnel of sorrowmemorial hall, dan amfiteater. Ruang paling atas (atap) didesain berbentuk elips yang ditanami rumpung dan berfungsi sebagai escape building hill. Dari atap ini, kita dapat melihat Kota Banda Aceh. 

Konsep escape building hill ini memungkinkan museum tsunami berperan sebagai tempat perlindungan dari bencana serupa pada masa depan.

Saat peringatan tsunami seperti hari ini, menurut Nusfi, pengunjung yang datang ke museum senilai Rp 67,8 miliar ini lebih banyak dari biasanya. Mereka tak hanya berasal dari Aceh, juga seluruh Indonesia, bahkan dari mancanegara.

Sumber : Kompas.com
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini