Empat Lembaga Gagas Museum HAM Aceh

Banda Aceh - Ruangan seluas 25 meter persegi itu dipenuhi foto dan narasi kejadian kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Ada foto penembakan di Simpang KKA, tragedi rumoh geudong, dan beberapa foto warga yang hilang. 
Foto-foto tertata rapi, melekat pada bingkai yang diletakkan pada dinding-dinding. Mereka semua membentuk ruang di bagian depan kantor Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh, itu menjadi “Museum HAM”.

Sebanyak empat lembaga di Aceh, yakni Komunitas Tikar Pandan, LBH Banda Aceh, KontraS Aceh, dan Koalisi NGO HAM Aceh berada di balik pendirian museum itu. Sebagai sebuah galeri, Museum HAM Aceh berada di Desa Lamreueng, Ulee Kareeng, Banda Aceh. Selain dalam bentuk visual berupa galeri, Museum HAM juga dikenalkan dalam bentuk situs dunia maya, yakni www.museumhamaceh.org.                 

Azhari, kurator Museum HAM, mengatakan museum yang didirikan pada 23 Maret 2011 ini bertujuan mengingatkan semua pihak di Aceh bahwa ada pelanggaran HAM berat di Aceh dan berbagai tindak kekerasan semasa konflik dulu. Dia mengaku tak banyak materi di dalam museum tersebut. “Karena yang dipamerkan adalah kesedihan orang lain,” ujarnya kepada Tempo akhir pekan lalu. 

Materi museum HAM itu tak hanya diam di sana. Pihak pengelola lebih banyak membawanya keluar saat menggelar acara-acara baik di kampus maupun saat beraksi di jalan-jalan. Mereka juga kerap menggelar pemutaran film-film dokumenter tentang pelanggaran HAM di Aceh di museum.

“Museum ini terus bergerak, untuk mengingatkan terutama generasi muda, bahwa banyak masalah kemanusiaan yang belum tuntas di Aceh,” kata Azhari.

ADI WARSIDI

Sumber: Tempo.co
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini