KUBAH MASJID SAKSI TSUNAMI YANG TERSISA

Tak terasa perjalanan waktu berlalu demikian cepat. Tsunami yang menerjang pesisir Aceh kini tepat berusia Sembilan tahun.

Hari Minggu sekitar pukul 08.15 WIB, pada 26 Desember 2004, gempa kuat menguncang Aceh. Gempa pun ikut dirasakan di sejumlah daerah di Indonesia dan negara tetangga.

Kalimat "Indonesia menangis" pun mulai kerap terdengar di telinga setelah orang-orang menyaksikan tayangan televisi tentang dahsyatnya kehancuran Aceh yang diterjang tsunami.

Ratusan ribu jiwa, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, kaya serta miskin turut menjadi korban bencana alam yang sebelumnya tidak dikenal di kalangan masyarakat Aceh.

Tsunami atau gelombang besar dengan ketinggian air laut bervariasi antara setengan hingga dua meter menerjang Kota Banda Aceh, sebagian Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Pidie serta Aceh Utara.

Jangkauan air laut merambah daratan antara tiga hingga lima kilometer dari pesisir pantai di sebagian wilayah di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.

Puing-puing kehancuran bangunan di mana-mana, mayat-mayat berserakan dan rintihan anak manusia yang masih bernafas namun tak sanggup menahan rasa sakit juga menjadi pemandangan hari-hari berselang tidak lama tsunami datang.

Bala bantuan pun satu per satu tiba di Aceh. Tidak mengenal warna kulit, suku, bahasa, dan agama, semuanya satu tujuan yakni membantu masyarakat Aceh.

Bangsa-bangsa dari berbagai belahan bumi itu datang membawa pakaian, pangan dan sandang serta obat-obatan. Rumah sakit lapangan berdiri hampir setiap penjuru meski keadaan darurat.

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang yang biasanya hanya melayani tiga penerbangan dari dan ke Banda Aceh, berubah menjadi super sibuk. Puluhan pesawat antre untuk mendarat.

Barak darurat dan tenda-tenda pengungsi juga mulai dibangun dan tersebar di ratusan titik untuk menampung keluarga dari korban bencana.

Masa rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh pascatsunami pun berjalan. Membangun kembali berbagai infrastruktur, khususnya rumah yang menjadi tempat tinggal bagi keluarga yang selamat dari tsunami.

Jalan-jalan utama kini telah beraspal hotmix dan tidak ada ruas jalan desa yang tidak beraspal di kampung-kampung eks tsunami. (Azhari)
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini