Mesir tahan 18 anggota Ikhwanul Muslimin

Kairo (Antara) - Kejaksaan Mesir hari Kamis memerintahkan penahanan sedikitnya 18 anggota Ikhwanul Muslimin, termasuk seorang mantan anggota parlemen, atas tuduhan menjadi bagian dari kelompok teroris, kata media pemerintah.

Perintah penahanan itu dikeluarkan sehari setelah pemerintah Mesir mengumumkan Ikhwanul Muslimin sebagai sebuah kelompok teroris.

Mereka yang ditahan mencakup putra dari wakil pemimpin Ikhwanul Muslimin kubu Presiden terguling Mohamed Morsi, kata Kantor Berita MENA.

Tujuh orang dikenai penahanan dua pekan yang bisa diperpanjang di kota Iskandariyah, sementara 11 lain ditahan di kota Zagazig di kawasan Delta Nil.

Polisi juga menangkap 16 terduga anggota Ikhwanul Muslimin karena membagikan selebaran yang mendukung kelompok tersebut dan "mengobarkan kekerasan", kata MENA.

Pengumuman Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris berarti setiap orang yang mengambil bagian dalam pawai mereka bisa dihukum penjara selama lima tahun, kata kementerian dalam negeri.

Memiliki literatur, atau mendukung mereka "secara lisan maupun tertulis" bisa dikenai hukuman penjara hingga lima tahun, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Para pendukung Morsi, yang terus melakukan demonstrasi hampir setiap hari untuk menuntut pemulihan kekuasaannya, berjanji melanjutkan protes-protes damai.

Pengumuman Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris pada Rabu itu disampaikan sehari setelah serangan bom mobil bunuh diri terhadap kantor polisi menewaskan 16 orang, yang diklaim oleh sebuah kelompok Sinai dan dikecam oleh Ikhwanul Muslimin.

Militan meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan setelah militer menggulingkan Presiden Mesir Mohamed Morsi pada 3 Juli.

Penumpasan militan yang dilakukan kemudian di Mesir menewaskan ratusan orang dan lebih dari 2.000 ditangkap di berbagai penjuru negara itu.

Kekacauan meluas sejak penggulingan Presiden Hosni Mubarak dalam pemberontakan rakyat 2011 dan militan meningkatkan serangan-serangan terhadap pasukan keamanan, terutama di Sinai di perbatasan dengan Israel.

Militan-militan garis keras yang diyakini terkait dengan Al Qaida memiliki pangkalan di kawasan gurun Sinai yang berpenduduk jarang, kadang bekerja sama dengan penyelundup lokal Badui dan pejuang Palestina dari Gaza.

Militan di Sinai, sebuah daerah gurun di dekat perbatasan Mesir dengan Israel dan Jalur Gaza, menyerang pos-pos pemeriksaan keamanan dan sasaran lain hampir setiap hari sejak militer menggulingkan Presiden Mohamed Morsi pada 3 Juli.

Sumber-sumber militer memperkirakan, terdapat sekitar 1.000 militan bersenjata di Sinai, banyak dari mereka orang suku Badui, yang terpecah ke dalam sejumlah kelompok dengan ideologi berbeda atau loyalitas suku, dan sulit untuk melacak mereka di daerah gurun itu, demikian AFP.
(M014)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2013
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini