Parlemen Somalia setuju Sheikh Ahmed sebagai PM

Mogadishu (Antara)- Palemen Somalia, Sabtu menyetujui Abdiweli Sheikh Ahmed, seorang pendatang baru politik dan pakar ekonomi sebagai perdana menteri baru yang menghadapi tantangan berat di negara yang luluh lantak akibat perang itu.

Semua kecuali tiga anggota parlemen memutuskan menyetujui calon yang diajukan Presiden Hassan Sheikh Mohammud yaitu pakar ekonomi itu yang telah bekerja pada organisasi-organisasi internasional dan bank-bank itu. 

Tiga anggota parlemen abstain dan sembilan menentang calon itu.

"Sejumlah 243 dari 246 anggota parlemen memberikan suara kepercayaan mereka pada perdana menteri baru itu," kata ketua parlemen Mohamed Osman Jawari.

Ahmed, 54 tahun menghadapi tugas berat untuk memberantas korupsi, menumpas gerilyawan Shebab yang punya hubungan dengan Al Qaida yang berperang untuk menggulingkan pemerintah pusat, dan membangun kembali negara Tanduk Afrika yang kacau itu.

"Saya sangat berterima kasih kepada parlemen karena menyetujui pengangkatan saya," kata perdana menteri baru itu setelah pemungutan suara itu. 

"Saya berjanji akan bekerja bagi pembangunan negara, dan akan segera membentuk kabinet berkualitas tinggi."

Ahmed yang memegang dua kewarganegaraan Somaila dan Kanada, meraih gelar doktor dalam perdagangan dan pembangunan dari Universitas Ottawa dan menguasai tiga bahasa asing.

Ia menggantikan Abdi Farah Shirdon, yang digulingkan parlemen setelah memangku jabatan itu selama setahun di tengah-tengah pergolakan kekuasaan yang keras dalam pemerintah yang didukung internasional itu.

Ahmed berasal dari suku yang sama dengan Shirdon, yang mungkin akan membujuk para pendukung mantan perdana menteri itu.

Dalam politik yang rumit di Somalia, masing-masing masyarakat mengharapkan memiliki wakil dalam jajaran kekouasaan.

Ia kini memiliki waktu 30 hari untuk membentuk kabinet baru, yang kemudian harus disetujui oleh parlemen.

Pemerintah Somalia yang berkuasa Agustus 2012 adalah yang pertama mendapat pengakuan internasional sejak ambruknya pemerintah garis keras tahun 1991, dan miliar dolar AS bantuan asing telah mengalir ke negara itu sejak saat itu.

Kendatipun pemerintah menguasai ibu kota Mogadishu, daerah-daerah luas pedesaan masih dikuasai Shebab, yang muncul sebagai satu ancaman perdamaian regional.

Mereka melancarkan serangan di luar Somalia, paling baru di pusat perbelanjan Westgate di Nairobi selama empat hari September yang menewaskan setidaknya 67 orang, demikian AFP.

(H-RN)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2013
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini