Senasib, puluhan WN Jepang ikut peringati 9 tahun tsunami Aceh

Merdeka.com - Puluhan warga negara Jepang ikut berziarah ke makam massal korban tsunami 9 tahun silam di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Bersama mereka juga ikut bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh berziarah untuk mengenang tragedi musibah gempa bumi dan tsunami Aceh.

Warga Jepang itu sempat menitikkan air mata saat menabur bunga dan menyiram air di makam massal tersebut. Salah seorang dari mereka, Nakajima Yasuko mengungkapkan bahwa dia dan negaranya siap membantu Aceh untuk membangun kembali. Karena, Jepang dan Aceh merupakan daerah yang kerap mendapatkan musibah tersebut.

"Kami sia membantu Aceh, siap membantu jiwa dan raga, demi Aceh, karena kita sama-sama mengalami gelombang tsunami yang dahsyat," kata Nakajima Yasuko di makam massal Ulee Lheue, Kamis (26/12) .

Ulee Lheue merupakan daerah di Banda Aceh yang paling parah terkena tsunami. Hal ini karena titik pusat air menghantam Banda Aceh datang dari daerah tersebut. Saat itu, tidak ada satupun bangunan baik rumah maupun infrastruktur lainnya yang tersisa.

Saksi bisu dahsyatnya tsunami bisa dibuktikan dengan terdamparnya kapal PLTD Apung berjarak 6 Km dari bibir pantai Ulee Lheue. Bobot kapal tersebut 2.500 ton yang saat ini sudah dijadikan objek wisata tsunami.

Puluhan warga negara Jepang itu menurut Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal sengaja untuk mengikuti peringatan 9 tahun tsunami yang pernah meluluhlantahkan Aceh.

"Mereka datang untuk bersama-sama dengan kita mengenang tragedi tsunami 9 tahun silam, karena mereka beranggapan Aceh dan Jepang memiliki nasib yang sama," tegas Illiza Sa'aduddin Djamal.

Saat prosesi penaburan bunga pertanda untuk mengenang para syuhada tsunami yang telah tiada. Salah seorang ibu-ibu nyaris jatuh karena menangis di samping Illiza. Akan tetapi, orang yang di dekatnya langsung memeluk dan menenangkan wanita paruh baya tersebut.

Tidak sedikit dari pengunjung yang berziarah di makam massal tersebut larut dalam kesedihan. Semua meneteskan air mata. "Berziarah hari ini bukan untuk meratapi musibah, akan tetapi mengenang apa yang telah terjadi di Aceh 9 tahun silam," ungkap Illiza.

Illiza justru mengaku yang ia khawatirkan ke depan pada generasi muda Aceh adalah terjadi 'tsunami moral.' Ada yang mengaku Islam, akan tetapi dalam menjalankan ibadahnya hanya setengah-tengah. "Ini yang harus kita waspadai ke depan terjadinya tsunami moral," tutupnya.
(hhw)

 Reporter : Afif | Kamis, 26 Desember 2013
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini