1 Kilometer, Nasib Kereta Api Odong-odong ala Aceh

Gerbong kereta api di Lhokseumawe. Foto Nanda Feriana | The Globe Journal 

Jam menunjuk sekitar pukul 10 pagi. Langit di Desa Bungkaih, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara bersinar cerah. Pagi itu Senin, 20 Januari 2013. Jalan menuju ke Kereta Api (KA) stasiun Bungkaih tampak lengang.
Di ruang tunggu loket, tidak tampak satupun penumpang, begitu pula dengan petugas. Belum ada aktifitas berarti di tempat itu. Suasana di sekeliling stasiun tampak masih sepi.
Tak jauh dari ruang tunggu loket, tampak Kereta Rel Diesel (KRD) atau yang biasa dikenal dengan sebutan Commuter Lineterparkir dipo (tempat penyimpanan kereta).
 Dari tempat itu beberapa orang teknisi terlihat sedang berada di bagian bawah kereta sedang mengecek mesin.
Dari sebuah ruangan bersebelahan dengan ruang loket, keluar seorang pria yang mengenakan seragam petugas berwarna putih. Pria itu adalah Arminizar Abdullah,Kepala Operasional Stasiun Kereta Api Perintis Aceh, yang terletak di Desa Bungkaih, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.
Selaku Kepala Operasional, Arminizar bertugas mengawasi segenap kegiatan operasional kereta, mulai dari mengawal seluruh aktifitas perjalanan kereta, membuat laporan tentang jumlah penumpang, mengawasi penjualan tiket, membuat laporan pendapatan, serta bertanggung jawab atas kinerja masinis, kondektur dan PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api).
Arminizar mengatakan sejauh ini di Aceh belum ada divisi khusus, dan para petugasnya jumlahnya sangat terbatas, semua aktifitas stasiun pun masih berada dibawah arahan beberapa stasiun di Medan dan bahkan banyak petugas merupakan kiriman dari Medan seperti dari stasiun Tebing Tinggi.
“Setau saya sejauh ini belum ada wacana untuk dilakukan rekrutmen pegawai. Terlebih proses rekrutmen pegawai butuh proses yang panjang. Harus ada seleksi administrasi, tes tertulis, tes kesehatan, wawancara, diklat prajabatan, diklat kejuruan, sampai diklat traksi,” ujarnya kepada The Globe Journal.
KRD Perintis Aceh mulai diujicoba pada tanggal 1 Desember 2013 yang lalu.
Hari itu bisa dikatakan menjadi hari bersejarah bagi dunia perkeretapian di Aceh. Betapa tidak, setelah puluhan tahun tidak memiliki kereta api (terakhir sekitar tahun 1975) kini kereta api kembali hadir ke tengah-tengah masyarakat Aceh.
KRD pun menjadi transportasi yang sudah bertahun-tahun ditunggu-tunggu oleh masyarakat Aceh.
Odong-odong 11 Kilo
Sejak diuji coba, KRD yang terdiri dari dua gerbong dan mampu menampung sekitar 150 orang ini mulai beroperasi dengan rute dari Krueng Manee hingga Krueng Geukuh dengan jarak 11,35 Kilometer dengan kecepatan 25 kilometer per jam.
Menurut pantauan Arminizar selama ini, masyarakat sangat antusias menyambut KRD Perintis Aceh.
“Mulai dari Anak-anak, remaja, orang tua, semuanya tertarik naik Kereta Api,” ujarnya sumringah.
Menurutnya memang ada baiknya segera dioperasionalkan KRD tersebut. Secara teknis, dengan semakin sering dilaluinya rel oleh kereta maka kepadatan tanah akan semakin baik dan jalan rel akan stabil. Begitu pula sebaliknya, jika terus dibiarkan menganggur tanpa kereta maka rel bisa-bisa rusak.
Arminizar juga mengatakan bahwa dalam waktu dekat direncanakan akan dilakukan penyambungan track ke Bireun. Penambahan track ini dimaksudkan supaya ada jalur yang menghubungkan antar kabupaten.
Dalam obrolan santai bersama Arminizar, ia juga sempat menyinggung tentang kondisi masyarakat Aceh yang menurutnya masih belum akrab dengan tranportasi jenis ini. Baginya sudah waktunya masyarakat beralih ke transportasi alternatif berupa kereta api.
Dari kondisi yang dilihatnya, lelaki yang ditunjuk menjadi Duta Kereta Api untuk Aceh ini mengaku sangat menyayangkan bila kehadiran kereta api di Aceh selama ini oleh sebagian orang masih dianggap tidak perlu.
“Aceh butuh Kereta Api. Saya sangat menyayangkan jika dikatakan tidak perlu, terlebih dikatakan KA di sini mirip odong-odong. Kereta Api Aceh bukan odong-odong,” tegasnya.

Hiburan Baru
Menurutnya wajar memang bila anggapan itu berkembang. Ia tidak menampik kenyataan bahwa selama ini masyarakat Aceh sudah lama tidak menggunakan Kereta Api dan ketika KA hadir masyarakat malah mengaggapnya hiburan baru.
Terlebih hal itu diperparah dengan jalur kereta yang masih sangat dekat, yakni hanya dari Krueng Geukuh ke Krueng Manee, sehingga dipandang tidak cukup efisien digunakan sebagai transportasi.
Oleh sebab itu, lelaki kelahiran Gampong Pande, Banda Aceh 18 Juni 1972 ini menghimbau agar masyarakat benar-benar menfungsikan Kereta Api sebagai transportasi. Ia mengingatkan bahwa KA adalah Transportasi darat yang sangat hemat energi dan ramah lingkungan.
“Kereta api sendiri hemat BBM, karena terdiri dari satu mesin dan satu tangki sementara gerbong-gerbongnya bisa ditarik panjang oleh mesin. Kendaraan pribadi akan banyak menghabiskan bahan bakar dan sebabkan polusi. Selain itu Pemerintah juga akan terus mengeluarkan biaya yang besar untuk subsidi bahan bakar. Jadi mari kita beralih ke KA, ”tutupnya.
Jadi, Inilah waktunya bagi pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Jangan sampai masyarakat Aceh terutama anak-anak hanya mengenal Kereta Api lewat lagu saja.
KRD Perintis Aceh beroperasi setiap hari. Bila anda ingin mencoba naik KA ini maka anda hanya perlu merogoh kocek seribu rupiah untuk membeli tiket. Ayo naik Kereta Api ! 

Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini