Sosialisasi Pengurangan Resiko Bencana Dibuka Wabup


Bireuen-Acehinfo.com. Pengurangan resiko bencana adalah salah satu system pendekatan untuk mengindentifikasi, mengevaluasi dan mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana . Tujuan utamanya untuk mengurangi resiko fatal dibidang sosial , ekonomi dan juga lingkungan alam serta penyebab pemicu bencana seperti gempa bumi, tsunami, abrasi pantai, banjir dan kekeringan .
Begitulah yang dipaparkan Wakil Bupati (Wabup) Bireuen, Ir. H. Mukhtar, M.Si, saat membuka acara Sosialisasi Pengurangan Resiko Bencana di Meuligoe Hotel, Kamis (16/1/2014). Wabub juga menambahkan  mengidentifikasi lokasi yang rawan bencana, siapa yang paling rentan ketika bencana terjadi baik dari status sosial-ekonomi, gender, umur dan lain-lain. Selain mengidentifikasi manusia juda diidentifikasi sumberdaya alam lainnya yang rentan terkena dampak bencana seperti keragaman hayati, dan lingkungan hidup.
Kemudian dilakukan kajian kemampuan atau kapasitas masyarakat terhadap antisipasi bencana yang mungkin datang. Kajian ini dilakukan untuk memetakan kekuatan dan sumber-sumber yang dimiliki oleh perorangan, rumah tangga, dan komunitas, yang membuat mereka mampu mencegah, mengurangi, siap siaga, menanggapi dengan cepat atau segera pulih dari bencana. Misalnya kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana, dilakukan prediksi dan peringatan dini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kabupaten Bireuen.
 Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kabupaten Bireuen, Asmara Hadi, mengatakan acara Sosialisasi Pengurangan Resiko Bencana ini diikuti 495 peserta dari tiga kecamatan di Kabupaten Bireuen.
“Kecamatan Juli 165 orang peserta, Kecamatan Jeunib 180 orang peserta, dan dari Kecamatan Kuala 150 orang peserta. Acara ini akan kita laksanakan selama dua hari, 16-17 Januari 2014,” unjarnya.
Amara Hadi juga menambahkan Pendekatan dalam memahami bencana pun mengalami perkembangan. Bencana tidak lagi dilihat sebagai semata-mata dinamika alam yang berubah dan berdampak pada manusia, yang mana alam menjadi “subyek” dan manusia menjadi “obyek”. Sebaliknya, saat ini, bencana lebih dilihat sebagai dinamika manusia dalam merespon gejolak atau dinamika alam. Dengan demikian, manusia menjadi “subyek” dan dinamika alam menjadi “obyek”.(Yudi WBC)


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini