Melihat Jembatan Gantung Rayeuk Pange Yang Memprihatinkan

Laporan :  Haris Molana Sikumbang

Bapak, Jembatan Itu Urat Nadi Bagi Kami.....
 
ilustrasi
Bapak, hari ini, sebuah  surat singkat kami tulis, sebagai pengingat, bahwa rakyat masih menunggu kebijakan tepat. Dulu, kecamatan ini, Pirak Timu, masih bergabung dengan Kecamatan Matangkuli namun kemudian tahun 2007 silam barulah menjadi kecamatan sendiri dengan nama Pirak Timu.

Tahukah Bapak. Hasil pertanian kami lumayan memuaskan. Kami punya coklat, pinang, sawit, dan lain sebagainya. Namun ini semua tak bisa membawa kami menjadi sejahtera. Karena, kami harus menjual ke pengumpul. Disebabkan jalanan buruk disertai jembatan penyeberangan alakadarnya saja.

Bapak. Suara alam dari air yang mengalir deras di alur sungai serasa di arung jeram. sementara diatas jembatan melintas beberapa sepeda motor dengan langkah terayun-ayun, pengendara tampak menyeimbangkan motornya agar tidak terjerambab dalam arus sungai yang deras. Itulah daerah kami.

Disana, tepatnya  di desa  Rayeuk  Pange.  Na Tutue ayoen saboh Pak, ceu kecamatan Pirak Timu ngon Matangkuli! (Terdapat sebuah  jembatan Gantung yang menghubungkan Kecamatan  kami dan kecamatan Matangkuli pak).

Jembatan tersebut merupakan alat penghubung utama kami ketika hendak ke ibukota. Pak, kamoe hana me elak, bahwa kaleuh nerehap tutu nyan ! (Pak, kami tak kan mengelak, memang jembatan ini telah direhap. Tapi mengapa kondisinya tidak karuan seperti itu).

Lantai Beralaskan kayu sudah pada copot, dinding yang katanya besi kualitas tinggi pun sudah berkarat dan ada yang sudah hilang tak tau kemana, kemudian tali seling yang juga katanya kualitas tinggi kini tinggal menunggu putus.

Sebelum direhap tahun yang lalu, jembatan itu tidak pernah terendam jika kala banjir melanda daerah kami. Sekarang setinggi  lutut diatas jembatan air dikala banjir melanda.

Pak,  Dulu, sisi kanan dan kirinya rendah dan sisi tengahnya sedikit lebih tinggi. Namun kenapa sekarang malah sebaliknya, kedua sisi tersebut tinggi dan sisi tengahnya kerendahan.

Begitulah kira-kira ungkapan warga yang memanfaatkan jembatan tersebut sebagai urat nadi penghubung utama masyarakat dikawasan tersebut.

Jinoe watee tanek lewat ateuh tutue sep yee teuh, meayon-ayon brat tat lage megelombang menan. (Sekarang  jika melintasi jembatan merasa ngeri, berayun- ayun seperti gelombang ibaratnya), ungkap Razali (60) salah seorang warga Rayeuk Pange.

Kakek itu bercerita. Jembatan yang memiliki panjang 60 Meter dan lebar 4 Meter itu dibangun tahun 1982. Jembatan itu, merupakan alat penghubung utama bagi masyarakat daerah tersebut. 
Jika pagi, anak-anak sekolah melintasinya untuk pergi sekolah di ibukota. Dapat dibayangkan dengan kondisi jembatan seperti ini, tentu sangat membahayakan,” ucap Razali lagi.

Melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan, yang dilintasi oleh manusia, kendaraan mulia dari sepeda hingga mobil ukuran minibus. Akan tetapi semua harus antri jika tidak ingin terperosok ke sungai.

Sementara disisi lain, keberadaan sungai sungai dibawahnya pun menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat setempat. Dikala airnya jernih sering dimanfaatkan warga untuk dijadikan air konsumsi serta ada juga yang memanfaatkannya untuk mencuci baju.

Warga ini juga mengaku sangat bersyukur dengan direhapnya jembatan gantung ini  walaupun tidak dibuat dengan utuh. Karena bagi mereka jembatan tersebut sebagai urat nadi  transportasi dalam melakukan aktivitas kegiatan dan ekonomi sehari-hari, ungkap Razali lagi.


Kami sangat berharap semoga kedepannya pemerintah untuk lebih berkomitmen dalam membuat jembatan ini lebih baik lagi, kalau pun bisa buatlah jembatan yang utuh seperti jembatan yang ada di daerah lainnya”  terangnya lagi. (*)


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini