4 Masjid di Banda Aceh yang Nyaman Buat Itikaf Ramadan

Photo : Fachrul Razi
Bulan Ramadan tiba, mari perbanyak ibadah. Salah satunya yang bisa dilakukan umat Muslim, adalah beritikaf di masjid sekaligus mengenal lebih dalam sejarahnya. Masjid mana saja yang nyaman untuk didatangi di Banda Aceh?

Itikaf dalam konteks ibadah memiliki arti berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Baik itu dengan berdzikir, membaca Al Quran dan tentunya shalat.

Memasuki bulan Ramadan, itikaf banyak dilakukan oleh umat Muslim. Tiap-tiap masjid di Banda Aceh pun menyediakan takjil atau makanan berbuka puasa, agar mereka yang beritikaf bisa lancar menjalankan ibadah.

inilah 4 masjid di Banda Aceh yang nyaman buat itikaf di bulan Ramadhan


1. Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid Kesultanan Aceh yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Bangunan indah dan megah yang mirip dengan Taj Mahal di India ini terletak tepat di jantung Kota Banda Aceh dan menjadi titik pusat dari segala kegiatan di Aceh

Sewaktu Kerajaan Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada agresi tentara Belanda kedua pada Bulan Shafar 1290 Hijriah/10 April 1873 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman dibakar. Kemudian, pada tahun 1877 Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan Bangsa Aceh. Pada saat itu Kesultanan Aceh masih berada di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat yang merupakan Sultan Aceh yang terakhir.

Sebagai tempat bersejarah yang memiliki nilai seni tinggi, Masjid Raya Baiturrahman menjadi objek wisata religi yang mampu membuat setiap wisatawan yang datang berdecak kagum akan sejarah dan keindahan arsitekturnya, dimana Masjid Raya Baiturrahman termasuk salah satu Masjid terindah di Indonesia yang memiliki arsitektur yang memukau, ukiran yang menarik, halaman yang luas dengan kolam pancuran air bergaya Kesultanan Turki Utsmani dan akan sangat terasa sejuk apabila berada di dalam Masjid ini.

Indah dan syahdu, dua kata yang dapat menggambarkan suasana di Masjid Raya Baiturrahman. Bagian dalamnya sangat luas dan bersih, yang membuat Anda bebas duduk di mana saja untuk beribadah. Banyak pula Al Quran di dalam sana, yang dapat Anda baca untuk melantukan dan meresapi tiap ayatnya.

Di bulan Ramadan, Masjid Raya Baiturrahman pun tak pernah sepi dari aneka kegiatan bagi umat muslim. Dari kegiatan buka puasa bersama hingga itikaf. Silakan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta!

2. Masjid Agung Al-Makmur Lampriet

Masjid Agung Lampriet awal mulanya sudah dibangun secara bertahap sedikit demi sedikit oleh masyarakat muslim setempat sejak tahun 1979 dengan nama Masjid Baitul Makmur dengan status sebagai Masjid Agung bagi kota Banda Aceh.

Ketika gempa disusul oleh gelombang tsunami menghantam Aceh, Nias dan kawasan Samudera Hindia lainnya, mengakibatkan kerusakan parah pada bangunan masjid ini.

Pemerintah Kesultanan Oman yang kemudian memberikan dana bantuan untuk membangun kembali masjid tersebut sebagai sebuah masjid Agung nan megah berarsitektur Timur Tengah seperti yang kita kenal saat ini.

Proses pembangunannya dimulai tahun 2006 dan diresmikan tahun 2008. Sempat mengemuka untuk menamakan masjid agung ini dengan nama Masjid Agung Al-Makmur Sultan Kabus, diambil dari nama Sultan Qaboos, Sultan Oman. Namun justru Sultan Oman yang kemudian mengatakan bahwa beliau tulus ikhlas lillahita’ala membantu muslim Aceh dan tidak perlu menyangkutpautkan bantuan tersebut dengan namanya. Sekedar catatan, nama Sultan Qaboos sudah di abadikan sebagai nama Masjid Nasional Oman dengan nama Masjid Agung Sultan Qaboos Muscat.

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet berada di pertigaan jalan Jl. Taman Ratu Syafaruddin / Muhammad Daud Beureuh, berseberangan dengan taman Ratu Safiatuddin di kota Banda Aceh. Dari kejauhan masjid ini sudah terlihat kemegahannya. Aroma Timur Tengah memang sangat kental pada bangunan masjid satu ini. lengkap dengan kubah besar dan menara kembar-nya. Keseluruhan proses rancangan, pembangunan dan pendanaannya ditangani langsung oleh pemerintah Oman.


3. Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue merupakan salah satu masjid bersejarah di kota Banda Aceh selain Masjid Raya Baiturrahman. Sama seperti Masjid Baiturrahman, Masjid Baiturrahim pun telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Aceh sejak masa kesultanan, penjajahan Belanda, Jepang, hingga era kemerdekaan dengan segala pahit manisnya sejarah. Bencara Tsunami 26 Desember 2004 mengangkat masjid Baiturrahim ke media pemberitaan dalam dan luar negeri ketika hantaman air tsunami berlalu menyisakan bekas yang luar biasa mengerikan, seluruh kota luluh lantak kecuali bangunan masjid Baiturrahim.

Masjid Baiturrahim berdiri di Kawasan wisata pantai Cermin Ulee Lheue, sebuah kawasan pantai yang sangat indah dan penuh dengan kenangan sejarah. Ketika Belanda melakukan ekspedisi pertama ke Aceh pada tahun 1873 dilakukan melalui Pantai Cermin (Pante Ceureumen) ini, Untuk kelancaran operasi militer di Aceh, Belanda membangun dermaga di Ulee Lheue sebagai pintu gerbang ke Aceh pada tahun 1874 dan selesai pembangunannya pada tahun 1875. Untuk menghubungkan Ulee Lheue ke Banda Aceh dibangun jalan kereta api dengan stasiunnya di sekitar depan Mesjid Raya Baiturrahman sekarang.


4. Masjid Teuku Umar atau Masjid Baitul Musyadah.

MASJID ini jauh beda dibandingkan masjid lain di Aceh. Kubahnya berbentuk kupiah meuketop Teuku Umar dan dibangun dengan bentuk persegi lima.

Masjid ini dikenal sebagai Masjid Teuku Umar atau Masjid Baitul Musyadah yang terletak di Jalan Teuku Umar, Seutui Banda Aceh.

"Masjid ini sebelumnya bernama Masjid Al Ikhlas," ujar H Abu Bakar Umar, selaku Imam Besar Masjid Teuku Umar

Nama tersebut, kata dia, merujuk pada saat pembangunan rumah ibadah itu yang berasal dari sumbangan empat gampong, Diantaranya sumbangan dari Gampong Lamteumen Timur, Geucheu Komplek, Geucheu Kayee Jatho dan Geucheu Inem.

“Masjid ini kita fungsikan pada tahun 1980-an,” ujarnya. Masjid ini berubah namanya menjadi Masjid Baitul Musyadah saat diresmikan oleh mantan Gubernur Aceh Syamsudin Mahmud.

Pembangunan masjid dengan bentuk segi lima ini semula digagas oleh Ali Hasyimi yang kala itu pernah menjabat sebagai Gubernur Aceh. Bangunan ibadah tersebut dibangun di atas lahan bekas Taman Ghairah atau taman tempat bermain anak muda masa Kerajaan Iskandar Muda. Lahan ini kemudian sempat dikuasai oleh Belanda.

“Dan barulah pada saat negara merdeka lahan ini kembali menjadi milik negara,” kata dia.
Sebelum masjid dibangun di lahan tersebut terdapat kolam dengan kedalaman mencapai 40 meter. Adanya kolam ini disebabkan oleh salah satu pengusaha asal Cina bernama Samkiyo yang ingin mengambil tanah merah untuk membuat batako.

“Gubernur Aceh kala itu Ali Hasyimi mengambil alih kembali lahan ini. Rencananya ia bersama Pangdam saat itu Syamaun Gaharu hendak menjadikan kolam pemandian dengan air dialiri dari Krueng Daroy,” katanya.

Namun rencana untuk menjadikan kolam renang oleh Ali Hasyimi saat itu gagal. Penyebabnya, kolam tersebut lebih tinggi dibanding Krueng Daroy. Akhirnya Ali Hasyimi mengambil inisiatif untuk membangun masjid di lokasi tersebut.

Sementara mengenai bentuk segi lima pada bangunan masjid tersebut berpijak pada rukun Islam lima perkara. “Dan untuk kubahnya juga sengaja digagas menjadi kupiah meuketop karena mengingat Teuku Umar merupakan pahlawan Aceh.

(Dari Berbagai Sumber)
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini