Apam, Sajian Khas Aceh di Bulan Rajab

BANDA ACEH - Bagi masyarakat Aceh, apam alias surabi bukan sekadar penganan pengganjal perat. Kuliner gurih ini memiliki tradisi tersendiri yang wajib disajikan pada bulan tertentu, yakni Rajab.

Dalam almanak Aceh, Rajab disebut juga buleun khanduri apam atau bulan makan surabi. Di kampung-kampung, kaum ibu memasak apam (toet apam), kemudian membagikan ke warga sekitar.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Aceh, namun kini mulai jarang terlihat.
Untuk melestarikan tradisi memasak apam, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar festival kenduri apam di Museum Aceh, Jalan SA Mahmudsyah, Banda Aceh, baru-baru ini. Kegiatan ini dipusatkan di bawah kolong Rumoh Aceh yang ada di komplek museum, sehingga nuansa tradisionalnya kentara.

Apam dibuat dari tepung beras, santan, kelapa parut, air putih, dan sedikit garam.
Bahan-bahan itu dilarutkan menjadi satu. Sebelum dimasak, biasanya adonan kental ini dibiarkan dulu sekira tiga jam agar semakin lembut. Seiring zaman, apam pun ikut dimodifikasi, misalnya, dengan ditambah sari daun pandan atau ketela sehingga rasanya bertambah unik.

Kemudian, panaskan periuk tanah (caprok tanoh) di atas api dan taburkan garam ke dalamnya agar tidak lengket. Setelah itu, tuangkan adonan per satu sendok kuah ke dalam periuk dan biarkan hingga matang. Angkat, dan apam pun siap disantap. Dahulu kala, apam dimasak bukan dengan kompor atau kayu bakar melainkan daun kelapa yang sudah kering.

Di kampung-kampung, tradisi memasak apam di bulan Rajab masih dilakukan kaum ibu, baik secara sendiri-sendiri maupun kelompok. Biasanya sebelum ‘pesta’ memasak apam dilakukan, warga yang mampu ikut menyumbang bahan-bahan.

Setelah dimasak, apam dibagikan kepada warga sekitar atau dibawa ke meunasah (surau) untuk disantap bersama-sama. Apam bisa disantap langsung. Namun, lebih rasanya lebih spesial bila dinikmati dengan kuah atau kelapa kukur yang dicampur gula.

Sejarawan dan pemerhati adat Aceh, Teungku Abdurrahman Kaoy, mengatakan bahwa tradisi kenduri apam sudah ada sejak zaman Kesultanan Aceh. “Di Aceh banyak sekali kenduri. Ini menandakan bahwa dulu Aceh memang negeri yang makmur. Salah satu kendurinya yaitu kenduri apam,” ujarnya.

Kenapa kenduri apam diperingati bertepatan dengan bulan Rajab? Menurut Abdurrahman, Rajab bagi orang Aceh atau umat Islam adalah bulan mulia. “Salah satu peristiwa besar dalam bulan Rajab adalah Isra’ Miraj,” tambahnya.

Alhasil, lanjutnya, masyarakat Aceh menjadikan Rajab sebagai bulan meningkatkan amalan dan saling berbagi, salah satunya lewat kenduri apam. Makna kenduri apam, kata Rahman, antara lain sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah. Kemudian, mempererat silaturahmi, menolak bala, dan membangun kesadaran umat agar mengingat Allah, terutama menjelang bulan suci Ramadan.

Nah, apam dulunya juga dikenal sebagai penganan sanksi. Di mana, jika seorang laki-laki tidak salat Jumat tiga kali berturut-turut, maka dia wajib menyedekahkan 100 apam kepada warga kampungnya.

Teungku Zulkarnaini, Ketua Khazanah Raja-Raja Aceh, mengatakan bahwa tradisi kenduri kini hampir hilang di Aceh. "Makanya, lewat festival kali ini, kita mencoba menghidupnya kembali," kata Zulkarnaini yang merupakan Keturunan Raja Nagan.
(Salman Mardira)


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini