Banyak Anak Pulau Terluar Aceh Putus Sekolah


BANDA ACEH – Banyak anak di Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, putus sekolah. Jalan rusak dan transportasi yang minim menghalangi anak-anak ke sekolah.

“Saya sangat ingin melanjutkan ke SMP, tapi tidak bisa, karena sekolah sangat jauh dari kampong (kampung) saya tinggal,” ucap Rismawati kepada SH, Rabu (24/6).

Seperti Rismawati yang tinggal di Desa Lapeng, sebagian besar anak, terutama di Pulau Breuh, juga di Kecamatan Pulau Aceh, hanya menamatkan sekolah dasar (SD). Hanya beberapa di antara mereka yang melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP), sementara yang lain memilih bekerja membantu orang tua.

Rismawati mengatakan, jarak antara desanya dengan SMP mencapai 15 kilometer. Jika jalanan dalam kondisi bagus, Risma—begitu dia biasa disapa—bisa ke sekolah menumpang kendaraan orang tua atau pergi bersama teman-temannya. Persoalannya, jalan desa sangat rusak dan terjal. Sepeda motor warga juga sulit melewati perbukitan. “Kalau dinaiki dua orang, pasti sepeda motor akan mundur karena terjalnya jalan,” ujar Risma.

Siswa yang bisa melanjutkan pendidikan ke SMP hanya yang memiliki saudara di luar Desa Lapeng atau di desa yang berdekatan dengan sekolah. “Dari 10 teman saya yang tamat SD dua tahun lalu, hanya tiga orang yang melanjutkan sekolah. Mereka terpaksa tinggal bersama saudara ayah atau ibu mereka di luar desa,” ujar gadis berusia 14 tahun ini.

Jarak juga yang menjadi alasan Khaidir tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Karena tidak sekolah, cowok 15 tahun ini terpaksa membantu pekerjaan orang tuanya. “Saya ikut melaut bersama orang tua saya,” ujarnya.

Terkilir
Sekretaris Desa Lapeng, Kecamatan Pulau Aceh, Saifuddin mengakui banyak anak-anak dari beberapa desa di Pulau Aceh terpaksa tidak melanjutkan sekolah setelah tamat SD lantaran sulitnya transportasi dan terjalnya jalan menuju desa tersebut. Padahal, ada dua SMP di Kecamatan Pulau Aceh, satu di Pulau Nasi dan satu lagi di Pulau Breuh.

Anak perempuan Saifuddin pernah berkali-kali harus dibawa ke tukang urut. Kaki dan tangannya terkilir karena jatuh ketika menaiki tanjakan atau turun tanjakan dengan sepeda motor. “Jangankan anak-anak, orang dewasa saja susah melewati jalan desa yang berbatu dan licin,” tuturnya.

Di musim kemarau saja, lanjutnya, jalan di pulau terluar Aceh itu sangat sulit dilewati. Di waktu hujan, jalan akan semakin hancur. “Bahkan baru dua tahun anak saya sekolah, dua sepeda motor telah rusak,” kata Saifuddin.

(Junaidi Hanafiah - Sinarharapan.co)


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini