Gubernur Aceh Respons Aspirasi Din Minimi

* Mahasiswa Gelar Demo

BANDA ACEH - Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah, Jumat (5/6) kemarin mengeluarkan pernyataan resmi tentang kondisi terkini keamanan Aceh. Termasuk akan melakukan pendekatan humanis dan holistik (menyeluruh) dalam menyikapi aksi kelompok sipil bersenjata yang masih berada di kabupaten tertentu.

Gubernur Zaini juga telah berinisiatif mengajak Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi dan Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto untuk membicarakan secara intensif solusi yang persuasif dalam penanganan keamanan di Aceh.

Pertemuan tiga pihak itu berlangsung di Meuligoe Gubernur Aceh, Kamis (4/6) malam, sejak pukul 20.00-23.00 WIB. Dalam pertemuan itu dicapai kesamaan pemikiran dan sikap dalam merespons situasi terkini keamanan Aceh. Meski pertemuan berlangsung tiga pihak, tapi Kapolda dan Pangdam mempercayakan hanya Gubernur Aceh yang mengeluarkan pernyataan sikap.

Kepada Serambi di pendapa kemarin, Gubernur Zaini mengatakan bahwa ia sangat memahami dan memberi perhatian sepenuhnya terhadap situasi yang terjadi di Aceh saat ini dengan memfokuskan perhatian kepada rakyat yang belum tersentuh oleh program pemberdayaan ekonomi, termasuk mereka yang belum mendapat pekerjaan yang layak.

Gubernur mengimbau seluruh strata pemerintahan di Aceh (mulai dari bupati/wali kota, camat, hingga keuchik) untuk segera melakukan mapping (pemetaan) serta pendataan ke daerah-daerah yang belum tersentuh program dan kegiatan pemberdayaan ekonomi rakyat, maupun yang memerlukan perhatian prioritas dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Selaku Kepala Pemerintahan Aceh, Gubernur Zaini menginstruksikan kepada Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) untuk menindaklanjuti dan mengoptimalkan pelaksanaan program pengentasan kemiskinan dan pembangunan rumah untuk kaum duafa. Khususnya untuk para eks kombatan serta janda dan anak yatim korban konflik (sebagaimana sering disuarakan Nurdin bin Ismail alias Din Minimi -red).

Gubernur juga mengajak seluruh komponen masyarakat Aceh untuk senantiasa menjaga perdamaian yanag sudah dicapai dan dirawat selama sini. “Supaya tetap terpelihara dan kita bisa membangun Aceh yang lebih baik serta bermartabat untuk semua,” ujar Gubernur Zaini yang didampingi Kepala Biro Humas Setda Aceh, M Ali Alfata MM.

Demi melestarikan perdamaian dan tegaknya hukum di Aceh, Gubenur Zaini mengimbau semua pihak agar ikut serta merawat dan bersungguh-sungguh mempertahankan reintegrasi, rekonsiliasi, serta kohesi sosial yang pencapaiannya semakin membaik menjelang peringatan sepuluh tahun perdamaian Aceh.

Sejalan dengan upaya di atas, gubernur juga mengimbau jangan ada lagi individu atau kelompok yang sengaja melanggar hukum dan dapat merugikan orang lain maupun dirinya, bahkan keluarganya sendiri. Jangan lagi lakukan tindakan yang aneh-aneh atau meresahkan, apalagi dengan membawa senjata ilegal yang justru dapat mengakibatkan jatuhnya korban nyawa yang sia-sia.

Di akhir pernyataanya kemarin, Gubernur Zaini juga mengucapkan selamat berpuasa. “Semoga momentum Ramadhan ini dapat kita manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga, menjaga ukhuwah islamiah, memperbanyak amal, dan meningkatkan kualitas ibadah demi menggapai rahmat dan ampunan dari Allah, serta dibebaskan dari siksa neraka,” demikian Zaini Abdullah.

 Mahasiswa demo
Sementara itu, 20-an mahasiswa yang tegabung dalam Aliansi Mahasiswa untuk Rakyat Aceh berdemo dengan melakukan orasi di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Jumat (5/6) sore.

Hampir semua mereka mengenakan topeng mirip wajah Zaini Abdullah dan mengusung sejumlah poster bertuliskan “Pak Zaini, tolong temui Din Minimi, cari solusinya!”

Dalam orasi itu mereka turut menghadirkan seseorang yang berkaos loreng dan mengenakan topi mirip Din Minimi dan memegang senjata laras panjang mainan.

Koordinator Aksi, Rahmad Wahyudi mengatakan, kasus Din Minimi juga merupakan bentuk gagalnya proses reintegrasi pada mantan kombatan.

Sedianya dalam proses reintegrasi, mantan kombatan haruslah menjadi fokus utama Pemerintah Aceh yang dipimpin juga oleh eks kombatan. “Din Minimi adalah contoh nyata bahwa untuk eks kombatan saja mereka tak bisa berbuat seperti apa yang diharapkan,” kata Rahmad.

Menurutnya, apa yang dilakukan Din Minimi adalah bentuk kekecewaan terhadap perdamaian ini dan kepada pemerintah. “Kami minta Gubernur dan Wakil Gubernu Aceh bertanggung jawab atas semua ini,” teriak Rahmad.

Demi mencegah lahirnya “Din Minimi” lainnya yang mencoba melakukan pergerakan atas kekecewaan mereka, Rahmad berharap Gubernur Zaini responsif dalam penyelesaian kasus ini, karena Din Minimi saat ini memang meminta reaksi dan keseriusan pemerintah dalam menjalankan amanah MoU Helsinki.

Mahasiswa juga meminta Pemerintahan Zikir untuk memenuhi semua janjinya semasa kampanye. “Apabila gubernur tidak memenuhi tuntutan kami, lebih baik mundur,” teriak Rahmad.

Aksi kemarin hanya berlangsung sekira 50 menit. Aksi mahasiswa itu berjalan tertib di bawah kawalan ketat pihak kepolisian. (dik/sb)

Sumber : Serambinews.com
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini