Leumang Ramadhan di Aceh Membawa Berkah

Pekerja membakar Leumang di Lhokseumawe. Acehinfo.com/Fachrul Razi
BANDA ACEH, KOMPAS.com - Bunyi gemeretak kayu yang menandakannya akan berubah jadi bara kian jelas. Di sekelilingnya, ratusan batang bambu terjejer rapi, ukurannya sama.

Seorang lelaki bertubuh gempal tak lepas memandang kayu yang menjadi bara dan terus menghitungnya agar tak berlebihan sehingga menghanguskan bambu di sekelilingnya.

Sejak pagi hari, M Jacob Jailani (43) sudah bergulat dengan ratusan batang bambu dan bara. Kendati demikian, pria asal Uno, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, ini tetap dalam kondisi berpuasa.

Batang-batang bambu ini sudah berisi beras ketan putih dan hitam dan sebagiannya berisi ubi kayu yang sudah dihaluskan. Kemudian dia membakarnya untuk dijadikan penganan bernama Leumang.

Selain bisa dimakan begitu saja, leumang biasa dimakan dengan selai srikaya, selai durian atau bahkan dengan menu rendang daging.

"Tring buloh"

Dalam bahasa Aceh, penganan dari beras ketan yang diaduk dengan santan dalam potongan bambu itu disebut tring buloh. Bambunya memiliki penampang yang lebih tipis dibandingkan bambu biasanya.

Satu batang bambu buluh dipotong dengan panjang sekitar 40-80 sentimeter bahkan lebih. Bambu ini diisi beras ketan dan santan lalu dibakar pada bara api yang banyak dalam posisi berdiri dengan sudut kemiringan kira-kira 80 derajat.

Sebelum dimasukkan beras ketan atau ubi kayu, dinding bambu buluh itu dilapisi daun pisang muda atau lebih tipis sehingga memudahkan saat mengambil ketan yang telah masak di dalamnya.

Rezeki Ramadhan

Leumang hanya dijualnya pada saat bulan Ramadhan dan dijual sebagai penganan berbuka puasa. Lewat berjualan leumang ini pulalah, Jacob Jailani selalu merasakan berkah Ramadhan. Dalam sehari, dia bisa menjual 100 hingga 120 batang leumang.

Sebatang leumang dijual dengan harga Rp 30.000. Dalam sehari, Jacob bisa meraup omzet sekitar Rp 3 juta-Rp 3,2 juta.

“Alhamdulillah setiap hari dagangannya habis, kadang-kadang ada juga yang memesan khusus untuk acara tertentu misalnya buka puasa bersama atau kalau mau dekat hari raya Idul Fitri, banyak juga yang pesan untuk penganan hari raya di rumah,” ujar Jacob.

Penulis    : Kontributor Banda Aceh, Daspriani Y Zamzami
Editor     : I Made Asdhiana
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini