Masjid Teungku Chik Kuta Karang Aceh Besar, Pengarang Kitab Tajul Muluk


Masjid Tgk. Chik Kuta Karang terletak di Desa Ulee Susu Kemukiman Kuta Karang, Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Mesjid ini didirikan oleh Teungku Chik Kuta Karang sekitar tahun 1860, dan telah direnovasi pada tahun 1997. Imam masjid ini sekarang dijabat oleh Teungku Muhammad.

Masjid ini berada di lokasi Dayah Babussalam, sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional Aceh yang dipimpin oleh Teungku Chik Kuta Karang sendiri. Dayah Ulee Susu didirikan pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah (1273-1286 H atau 1857-1870 M). Sebelum perang kolonial Belanda di Aceh, dayah ini telah mencapai kemajuan yang pesat. Santrinya datang dari berbagai daerah di Aceh. Selain memimpin dayah Teungku Chik Kuta Karang juga menjadi Qadi Malikul ‘Adil di zaman Sultan ‘Alaiddin Mansur Syah. (A. Hasjmy, 1978: 62).

 Dalam masa jabatannya sebagai Qadi Malikul ‘Adil, beliau lah yang menyarankan agar Sultan mengumumkan seruan jihad fisabilillah. Dikisahkan bahwa suatu masa Sultan Aceh bermimpi lalu ditanyakan ta‘bir-nya kepada Teungku Chik Kuta Karang. Beliau menjelaskan ta‘bir-nya; bahwa Aceh akan berperang dengan Belanda. Teungku Chik Kuta Karang menyatakan, satu-satunya jalan menghindari bahaya itu ialah mengumumkan tekad perang sabil yang harus dijalankan dengan yakin dan sungguh-sungguh (Mohammad Said, 1981: 707).

Keahlian menta‘bir adalah salah satu bidang kepakaran Teungku Chik Kuta Karang yang diakui secara luas. Bidang ini didukung oleh penguasaan beliau terhadap ilmu falak (astronomi) ilmu perbintangan dan kedokteran. Satu hal yang menarik, beliau menuliskan ilmu-ilmu yang dikuasainya dalam banyak kitab. Kitab kitab yang beliau tinggalkan menunjukkan bahwa beliau adalah seorang ulama yang produktif. Sebagian dari naskah tulisan beliau telah hilang ditelan zaman, oleh karena itu, naskah yang masih tersisa perlu segera direstorasi agar dapat dijadikan bahan studi kapanpun diperlukan.

 Karya-karya Teungku Chik Kuta Karang antara lain Kitab ar-Rahmahyang membahas tentang ilmu kedokteran dan obat-obatan. Siraj az-Zulam fi ma‘rifat Sa‘adi wa an-Nahas yang berisi tentang ilmu hisab dan perbintangan. Kitab ‘Ilmu Falak wal Mikat yang membahas tentang ilmu astronomi. Taj al-Mulk yang berisi tentang astronomi dan pertanian. Sebagian dari naskah ini masih ada di Dayah Babussalam, Lam Kunyet, Ulee Susu. Namun sayang kondisinya sudah banyak yang dimakan rayap. (Tim Penulis IAIN Ar-Raniry, 2004: 63).

Melihat dari keilmuannya, maka tidak diragukan lagi bahwa Syaikh Abbas ibn Muhammad adalah seorang ulama besar, ahli sufi, dan intelektual reformis. Beliau juga seorang pemimpin perang. Dalam hal ini beliau menulis dua buah kitab mengenai seluk beluk perang sabil, yaitu Maw‘idhatul Ikhwan pada, (Nasehat Kepada Sahabat) tahun 1886 dan Tazkiratur Rakidin (Peringatan untuk Orang yang Berdiam Diri) pada tahun 1889.

 Mengenai kitab Tazkiratur Rakidin, Paul van’t Veer mengomentarinya sebagai sebuah penemuan yang hebat, (Paul van’t Veer, 1977: 211). Dalam kitab itu, Teungku Chik Kuta Karang juga menulis bahwa Belanda tidak bisa dipercaya, buktinya Jenderal “buta siblah” (Van der Heyden) yang merupakan bangsanya sendiri ternyata dibuang karena tidak memenuhi keinginan mereka, (H C. Zentgraaf, 1983: 8-9).

Dalam kitab Tazkiratur Rakidin, Teungku Chik Kuta Karang mengajarkan bahwa “Barangsiapa yang memerangi kafir hendaklah dengan mempergunakan alat-alat senjata yang dipakai oleh musuh” Sumber-sumber sejarah Aceh menunjukkan bahwa dalam pelbaga i kesempatan pihak pejuang Aceh memang berusaha merampas dan membawa lari senjata-senjata Belanda. (PDIA, 1990: 146).

 Di masa perang kolonial Belanda di Aceh, Teungku Chik Kuta Karang sempat menjadi penasehat utama Teungku Chik Di Tiro bersama Teungku Chik Tanoh Abe dan ulama terkemuka lainnya. Keahlian beliau dalam ilmu Falak sangat membantu pemetaan medan perang untuk mengatur strategi perang. (Tim Penulis IAIN Ar-Raniry, 2004: 62).

Selain itu, Teungku Chik Kuta Karang juga sangat aktif menyebarkan tulisan-tulisan yang membangkitkan semangat perang rakyat bertentuk syair. Syair-syair ini menjadi hiburan populer bagi anak muda Aceh yang dibaca di meunasah pada malam hari. (Anthony Reid, 2005: 273)

 Setelah wafatnya Teungku Chik Di Tiro pada bulan Januari 1891, keadaan berubah. Konsentrasi kekuatan terpecah, dan tekanan pihak Belanda makin menguat. Akibatnya para ulama diharuskan berjuang secara gerilya dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Dalam masa ini, Teungku Chik Kuta Karang kerap bekerjasama dengan Teuku Umar dalam melancarkan serangan jihad gerilyanya.

Teungku Chik Kuta Karang berpulang ke rahmatullah pada bulan November tahun 1895. Beliau tidak sempat mengembangkan ilmunya lebih jauh sebagaimana yang dilakukan ulama lain setelah perang. Namun begitu ada murid-muridnya yang meneruskan upaya pewarisan ilmu yang bersumber dari beliau. Setelah perang, ada salah seorang murid Teungku Chik Kuta Karang yang diketahui membangun Dayah Indrapuri.

Sumber: Buku Mesjid Bersejarah di Nanggroe Aceh, Jilid 1, Departemen Agama Provinsi Aceh (E-book)

Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini