Mie Caluk, makanan tradisional Aceh yang diburu jelang buka puasa

Merdeka.com - Sebuah mobil pikap dengan spanduk berwarna kuning bertuliskan mi caluk parkir di pinggir jalan Tgk Chik Ditiro, Peuniti, Banda Aceh. Dalam bak belakang yang telah diberi atap ada 3 kotak kaca berisikan beragam dagangan.

Pembeli tidak hanya di kalangan masyarakat biasa, deretan antrean sepeda motor hingga mobil-mobil mewah terparkir di dekat mobil pikap tersebut.

Ada 3 orang yang sedang sibuk melayani pembeli memadati mobil pikap tersebut. Satu perempuan berada dalam mobil bertugas membungkus mi caluk, sedangkan seorang laki-laki bertugas menjadi kasir dan seorangnya lagi bertugas melayani pembeli sembari membungkus kuah kacang dalam plastik.

Mobil pikap ini tempat berjualan mi caluk, masakan khas tradisional Aceh yang mirip dengan spageti. Meskipun makanan tradisional Aceh, rasanya dijamin lezat dan akan ketagihan bila menikmatinya.

Mi caluk ini menjadi makanan primadona di Aceh. Terutama yang lebih dikenal saat ini dengan mi caluk grong-grong, Kabupaten Pidie. Karena memang kuliner tradisional Aceh ini banyak dijajakan di pasar grong-grong lintasan Banda Aceh-Medan.

Salah satu bukti mi caluk masih digemari oleh masyarakat Aceh bisa dilihat ada banyak tempat menjajakan kuliner khas Aceh ini yang mirip spageti ini. Terutama bulan ramadan, hampir di sepanjang ruas jalan di kota Banda Aceh menjual mie caluk untuk berbuka puasa.

Bahkan mi caluk menjadi menu favorit warga Banda Aceh saat hendak berbuka puasa. Mi caluk setiap hari selama ramadan yang dijajakan semua ludes terjual.

Mi caluk ini terbuat dari mi lidi yang banyak dijual di pasar. Disebut dengan mi lidi karena mirip dengan lidi dan berwarna kuning. Kemudian mi lidi tersebut direbus hingga matang.

Kemudian mi caluk dicampur kuah kacang yang memiliki sensasi gurih dan lezat. Kuah kacang tanah ini dibuat mirip kuah sop, tetapi ini terbuat dari kacang dan beberapa rempah lainnya.

Ada juga mi caluk ini dicampur dengan urap. Urap adalah sayuran dari daun ubi yang telah direbus, lalu dicampurkan dengan kelapa parut. Kelapa parut ini juga diberikan garam secukupnya dan juga cabai.

Mi caluk kami ini ada kuah kacang yang kami campur dengan tempe dan tahu, kata pemilik mi caluk, Aidil, Sabtu (27/6) di Banda Aceh.

Aidil mengaku sengaja datang dari Grong-grong, Pidie ke Banda Aceh untuk menjual makanan tradisonal Aceh yang banyak digandrungi warga Banda Aceh. Selama ramadan, Aidil mengaku bisa menjual mi caluk hingga 100 kilogram per hari.

Habis per hari antara 80 hingga 100 kilogram selama bulan ramadan, saya menjual sejak pukul 16.00 WIB, imbuhnya.

Mi caluk milik Aidil ini dibungkus dengan daun pisang. Tentunya aroma khas daun pisang semakin nikmat menyantap jajanan tradisional ini. Sehingga membuat siapapun yang mencobanya akan kembali untuk membeli lagi.

Harga pun relatif terjangkau. Baik kelas ekonomi atas maupun kelas ekonomi menengah ke bawah. Harga per bungkusnya, Aidil membandrolnya sebesar Rp 5000.

Selain mi caluk yang terbuat dari mi lidi, Aidil juga menyediakan mi pilihan lainnya, yaitu mi goreng mirip dengan yang disebut dengan mi Aceh. Mi goreng ini juga banyak digemari oleh warga Banda Aceh.

Satu jenis lain yang juga disediakan oleh Aidil adalah mi hun yang telah digoreng. Mi hun ini juga saat dimakan dicampur dengan kuah kacang seperti kuah mi caluk.

Selain mi caluk, ada juga mi hun, mi goreng, setiap hari juga terjual hingga 100 kilogram," ujarnya.
[has]

 
Reporter : Afif 



Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini