Perang Sebabkan Budaya Aceh Tertinggal

JAKARTA - Perang dengan Belanda dan konflik berkepanjangan di Aceh telah menyebabkan Budaya Aceh tergerus dan tinggal sisa puing dari zaman kejayaan Aceh.

Oleh karena itu patut dibanggakan apabila ada upaya menjaga dan dilestarikan dan kemudian dikembangkan sesuai kebutuhan.

Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar mengatakan hal itu saat mengantarkan Diskusi Terarah atau Focus Discutiop Group (FGD) Kongres Peradaban Aceh yang membahas penguatan bahasa-bahasa lokal di Aceh, di Jakarta, Jumat (26/6/2015).

"Kita patut menjaga budaya dari pengaruh globalisasi dan canggihnya perang cyber yang secara perlahan mereduksi budaya, sehingga terkikisnya budaya ibu yang menjadi kebanggan rakyat Aceh," kata Wali Nanggroe.

Diskusi tersebut membincangkan penguatan bahasa-bahasa lokal di wikayah Aceh. Menghadirkan pembicara terdiri dari para penutur bahasa lokal, Yusrado Usman al-Gayoni dari Gayo, Fajri Alihar dari Singkil, Umardidari Simeulue.

Juga ada Reza Idria, yang sedang menjalani program doktoral di Harvard University, Ketua Majelis Pendidikan Aceh, Ketua Majelis Adat Aceh, termasuk tiga rektor Prof Warid Wadjdi dari UIN Ar-Raniry, Prof Syamsul Rizal dari Unsyiah dan Prof Jasman J Ma'ruf, Rektor Universitas Teuku Umar (UTU).

selengkapnya di Serambinews
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini