Perempuan Habiskan 5 Jam per Minggu untuk "Selfie"

 "On the internet, nobody knows you're a dog'' begitu keterangan ilustrasi buatan Peter Steiner yang dimuat di The New Yorker pada 1993. Ilustrasi itu menjadi viral dan hingga kini kerap disentil ketika membahas fenomena penggunaan internet.

Steiner mencoba menjelaskan kondisi sosial masyarakat melek internet. Bahwa di dunia maya orang cenderung menampilkan sesuatu yang ''dibumbui'', untuk tak mengatakan palsu.

Kemunculan media sosial semacam Instagram semakin memperkuat penjelasan Steiner. Netizen ingin menampilkan hal-hal terbaik yang mereka miliki.

Wajah cantik atau tampan, kehidupan asmara romantis, karir mulus, status sosial dan seterusnya. Semua itu demi pengakuan sosial yang indikatornya dihitung dari simbol bernama ''like''.

Seseorang terbilang ''keren'' di Instagram ketika foto yang diunggah mendapat banyak "like". Di Twitter, indikatornya adalah jumlah pengikut dan banyaknya RT saat membuat status.

Lain lagi dengan Path yang mengukur keeksisan seseorang dari jumlah ''love''. Saat jumlah ''love'' bisa membuat orang menggulir layar hingga lelah, di situlah pengakuan sosial dianggap terkonfirmasi.

"Kok yang like sedikit?'' Begitu gumam umum remaja kekinian ketika respon yang diterima di media sosial tak sesuai ekspektasi.

Perempuan, selfie dan Instagram

Mengerucut ke ranah stereotip atas makna cantik. Media sosial menegaskan konstruksi sosial atas arti cantik dan tak cantik. Rambut panjang bergelombang, bibir merah, kulit putih, alis tebal, badan kurus tinggi, adalah beberapa kriteria seseorang bisa dikatakan cantik lewat Instagram.

Gaya foto pun punya kontribusi untuk mengkotakkan konsep ini. Dagu diturunkan, bibir ditipiskan, kepala dimiringkan dengan seluruh rambut diletakkan di bahu sebelah kanan adalah beberapa di antara posisi selfie yang kerap dilakukan.

Sebuah studi dari Inggris yang dilaporkan Cnet menunjukkan, perempuan berusia 16 hingga 25 tahun cenderung menghabiskan waktu 5 jam tiap minggunya untuk selfie. Malam hari sebelum tidur, mereka mendedikasikan waktunya untuk selfie terlebih dahulu.

Survey tersebut melibatkan 2.000 sampel perempuan. Setidaknya, dalam satu hari perempuan dengan rentang usia tersebut menjepret foto mandiri sebanyak tiga kali. Tiap foto menghabiskan waktu rata-rata 16 menit.

Kenapa 16 menit? Waktu itu dibutuhkan untuk mencari posisi wajah terbaik agar menghasilkan selfie "cantik''. Banyak yang berperan di sini. Kualitas kamera, pencahayaan dan pengeditan setelah menjepret diri.

Maka menjadi relevan ketika vendor ponsel cerdas acap kali menelurkan produk yang dibekali kamera depan kualitas prima. Tak lupa, fitur semacam ''beautification'' untuk memuluskan kulit, meniruskan pipi dan membesarkan mata juga disematkan.

Ponsel cerdas mengakomodir kebutuhan masyarakat ''media sosial'' untuk masuk ke konsep ''cantik'' yang dikonsturksikan lewat media sosial. Fenomena selfie karenanya tak pernah lepas dari penetrasi ponsel cerdas, media sosial dan konstruksi sosial.

Penulis: Fatimah Kartini Bohang
Editor: Wicak Hidayat
Sumber: CNET / Kompas
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini