Sebuah Renungan dari Hasan Tiro



LIMA tahun sudah Wali Negara Hasan Tiro meninggalkan kita semua, kembali kepada-Nya. Karena itu, saya ingin mengupas sedikit tentang perjalanan hidup tokoh kontemporer Aceh yang kerap disapa ‘Wali’ ini yang meninggal pada 3 Juni 2010 silam. Kita harus mengakui bahwa Hasan Tiro adalah sosok yang memiliki intelektual dan keberanian dalam setiap kebijakannya.

Diakui atau tidak, Hasan Tiro berhasil membangun semangat keacehan. Hasan Tiro pergi tanpa mewariskan harta benda. Padahal awalnya, Hasan Tiro memiliki istri yang cantik, anak yang ganteng, harta yang mumpuni, dan jaringan bisnis yang megah di New York, Amerika Serikat. Namun pada akhirnya, anak pasangan Teungku Muhammad Hasan dan Pocut Fatimah ini, tidak memiliki apa-apa secara materi, kecuali kecintannya terhadap rakyat Aceh untuk menata hidup yang damai dan sejahtera.

Di akhir hayatnya, Wali Negara Hasan Tiro tidak memiliki rumah pribadi, mobil yang mewah, dan fasilitas yang wah. Satu-satunya warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh Wali Negara Hasan Tiro adalah kemampuannya menyunti virus kesadaran bahwa Aceh adalah sebuah bangsa berdaulat, bukan biek lami√ęt (bangsa budak). Hasan Tiro mengarisbawahi kita boleh kehilangan harta dan takhta, namun tak boleh kehilangan harga diri (dignity) sebagai sebuah bangsa.

Sosok pemberani
Wali, yang lahir pada 25 September 1925 dipandang berhasil membangun semangat keacehan seluruh etnik di Aceh. Sebagai sosok pemberani, mulai dari jiwanya yang sangat Republiken pada awalnya, lalu melakukan perlawanan terhadap NKRI, sampai akhirnya tercapainya kesepakatan damai sebagaimana tertuang dalam MoU Helsinki 15 Agustu 2005, selalu menarik untuk direnungkan dari cucu pejuang Aceh Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman ini.

Sosoknya bukan hanya pejuang, tapi juga ideolog, orator dan penulis buku. Tiga judul bukunya sangat terkesan bagi semua pihak, yaitu Demokrasi untuk Indonesia, Aceh di Mata Dunia, dan The Price of Freedom: Unfinished Diary. Di samping judul buku-buku dan makalah lainnya. Intisari dari sejumlah bukunya, Hasan Tiro berharap supaya rakyat Aceh jangan dijadikan alat propaganda orang lain untuk menghantam bangsa sendiri.

Satu istilah yang sering beliau tulis adalah rakyat Aceh harus turie droe dan tusoe droe (mengenal diri sendiri dan mengetahui siapa kita). Dan tidak rendah diri (imperiority complex) saat berhadapan dengan bangsa lain. Perpindahan pemikiran Hasan di Tiro ini menarik direnungi, sebab dia berangkat dari serba kemewahan. Walaupun sekarang perpindahan ini tidak diikuti oleh semua anak didiknya atau mereka yang mengakui se ideologi dengan cucu Chik Mohammad Saman.

Dalam buku The Price of Freedom: Unfinished Diary, halaman 8, Hasan Tiro mengungkapkan perasaannya ketika mengarungi Selat Malaka pada 28 Oktober 1976 jam 02.00 dini hari. Di tengah orang-orang sedang tidur lelap, dia lagi mengarungi Selat Malaka menuju Kuala Tari di Kabupaten Pidie, Aceh, meninggalkan segala kemewahan di Amerika. Pada umur 51 tahun yang terbayang dibenaknya keinginan untuk memartabatkan rakyat Aceh. Dia menulis dalam buku diarinya tersebut bahwa pada malam itu yang terbayang hanya kisah yang pernah dia baca tentang Kaisar Rumawi saat menakluki Roma.

Ini adalah karya yang fenomenal dari Hasan Tiro. Karya yang selalu dirujuk ketika membedah pemikiran Hasan Tiro. Buku yang beredar dalam bahasa Inggris dan bahasa Aceh memaktubkan kisah hariannya ketika di Aceh dari 4 September 1976 hingga 29 Maret 1979 sewaktu keluar dari Batee Iliek, yang pada saat itu, penulis beberapa kali menjumpai beliau dibawa oleh Pawang Raman (almarhum). Karena memang ada hubungan emosional yang sangat akrab antara keluarga ulama Tiro dan keluarga ulama Samalanga.

Buku harian ini penuh dengan semangat hidup yang tak pernah pudar. Pada halaman 4, misalnya, tercantum: “Saya punya istri yang cantik dan seorang bocah kecil yang sangat tampan. Saya juga sedang memasuki tahap tersukses dalam bisnis. Saya punya kontrak bisnis dengan para pengusaha dunia dan telah masuk dalam lingkaran pemerintahan dunia, seperti AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara kecuali Indonesia.”

Renungan 5 tahun
Setidaknya ada beberapa poin sebagai renungan lima tahun meninggal Hasan Tiro. Pertama, kesederhanaan hidup Hasan Tiro harus menjadi panutan bagi anak-anak ideologisnnya, dan seluruh rakyat Aceh. Kedua, spirit keteguhan hidup, tidak menjadi pengemis harta dan kekuasaan. Hasan Tiro meninggalkan hidup yang mewah menjadi hidup lebih sederhana demi berjuang terhadap bangsanya. Ketiga, Hasan Tiro selalu mengingatkan rakyatnya untuk tidak menjadi bangsa lamiet. Jangan mudah di provokasi untuk kepentingan sesaat. Dan, keempat, harus mencitai sejarah perjuangan (the acehnese heroic salvation) di atas segala-galanya.

Mengenang lima tahun berpulangnya “Bapak Revolusi Aceh” ini dengan mengingatkan apa saja yang telah dilakukan oleh mantan pemanggul senjata kepada rakyat. Di sisi lain, rakyat pun menyadari bahwa Hasan Tiro telah mendidik warga untuk memiliki harga diri (dignity). Sudah saatnya sekarang, semua elemen rakyat Aceh menjadikan Hasan Tiro sebagai sosok inspiratif terutama dalam menjaga harga diri, keberanian dan kesederhanaan.

Belajar dari keserhanaan hidupnya, Hasan Tiro harus menjadi panutan semua rakyat Aceh. Rakyat Aceh harus menjadikan dirinya sebaga murid, dan Hasan Tiro adalah gurunya. Karena saya melihat bahwa anak didik Hasan Tiro adalah seluruh rakyat Aceh. Kesadaran dan pengetahuannya yang dimiliki Hasan Tiro harus menjadi kesadaran kolektif rakyat dan pemimpin di Aceh. Sudah selayaknya rakyat Aceh, menjadikan pemikirannya untuk diteruskan pada generasi Aceh berikutnya. Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan itu harus dibagi dan dipelajari.

Akhirnya renungan lima tahun meninggalnya Hasan Tiro menumbuh-kembangkan kesadaran keacehan baru, karena kesadaran hanya bisa bangkit, apabila orang Aceh mengenal kesadaran sejarah bangsanya. Perjuangan bukan untuk memperkaya diri, tetapi untuk sebuah harga diri. Hanya pada saat seluruh rakyat sudah mempunyai harga diri, pada saat itulah ia akan berdaulat. Semoga!

OPINI - Serambinews.com
* M. Adli Abdullah, S.H., MCL., Mahasiswa Program Doktoral bidang Sejarah Hukum Universitas Sain Malaysia. Email: bawarith@gmail.com
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini