Ini Hasil Seminar Internasional Lokakarya dan Advokasi Perikanan Nasional yang berlangsung di UNIMAL


14 Desember hingga 19 Desember 2015 mahasiswa perikanan Universitas malikussaleh yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia menggelar kegiatan Seminar Internasional, Lokakarya dan Advokasi perikanan Nasional yang berlangsung di gedung GOR ACC Cunda Lhokseumawe, Ucapan terimakasih kepada Universitas Malikussaleh, Pemerintah Aceh Utara, Pemerintah Aceh, Ikatan Alumni Budidaya Perairan Universitas Malikusaaleh serta civitas akademika Budidaya Perairan Universitas Malikussaleh, dan  seluruh sponsor yang telah berkenan membantu  baik dari segi pendanaan dan motivasi sehingga kegiatan Seminar Internasional, Lokakarya dan Advokasi perikanan Nasional dapat berjalan lancar.
Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa perwakilan mahasiswa se-Indonesia seperti Universitas Pattimura (Ambon), Universitas Antakusuma (Kalimantan Tengah), Universitas Jendral Soedirman (Purwokerto), Universitas Muhammadiah Malang (Jawa Timur), Universitas Brawijaya (Jawa Timur), Universitas Sriwijaya (Palembang), Universitas Maritim Raja Ali Haji (Kepulauan Riau), Universitas Riau (Riau), Universitas Islam Riau (Riau), Universitas Bung Hatta (Sumatera Barat), Universitas Sumatera Utara (Medan), Universitas Dharmawangsa (Medan), Universitas Samudra (Langsa), Universitas Syiahkuala (Banda Aceh), Universitas Abulyatama (Aceh besar) dan Universitas Teuku Umar (Meulaboh) selain mahasiswa perikanan kegiatan ini juga dihadiri oleh unsur masyarakat seperti HNSI, Seluruh Panglima La’ot aceh utara dan kota Lhokseumawe.
Yang menjadi pembicara kunci pada kegiatan ini adalah Dr. Suseno Sukoyono yang mewakili mentri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti dan pemeteri seminar Internasional perwakilan World Fish Center yaitu Luca Michice Ph.D dan Alumni NTOU Taiwan Dr. Agus Putra. Pada hari kedua Lokakarya Perikanan Nasional pemateri yang hadir antara lain Ir. Saut Parulian Hutagalung, M.Sc. (Staf Ahli Mentri Kelautan dan Perikanan RI bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya atau Mantan Dirjen P2HP KKP), Rafly (Anggota Komite 2 DPD RI) dan M. Riza Damanik (Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia), sedangkan pada hari ketiga itu berlangsung kegiatan Advokasi di TPI Krueng Mane Aceh Utara yang di hadiri oleh panglima La’ot Kec. Muara Batu dan Dinas Kelautan Perikanan Kab. Aceh Utara Darmawan serta kegiatan bersih-bersih pantai dikawasan TPI Krueng Mane, Aceh Utara.
Dari seluruh kegiatan tersebut lahir beberapa rekomendasi yang harus dipertimbangkan serta dijalankan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan RI antara lain:
  1. Pemerintah segera mengganti alat tangkap yang lebih ramah lingkungan dengan anggaran yang telah masuk kedalam program prioritas KKP tahun 2016 terkait pengadaan kapal sebanyak 3287 Unit dan pengadaan alat tangkap sebanyak 13.872 Unit.
  2. Bangun Coldstorage disetiap TPI minimal dalam 1 Kabupaten/kota memiliki 1 Coldstorage Ini bertujuan untuk menstabilkan harga ikan baik pada musim paceklik maupun pada musim tangkapan ikan melimpah.
  3. Memperketat perizinan bagi kapal eks asing berupa SIUP (Surat Izin Usaha Perikanan), SIKPI (Surat Izin Kapal Perikanan) serta SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan).
  4. Revolusi Mental pegawai perikanan terutama di daerah-daerah.
  5. Kapal hasil tangkapan Illegal Fishing jangan ditenggelamkan tetapi disita dan  diberikan kepada Perguruan tinggi yang memiliki Fakultas/Jurusan Kelautan dan Perikanan Untuk menunjang SDM kelautan dan perikanan.
  6. Lembaga Hukum Adat La’ot Aceh (Panglima La’ot) harus memiliki dana khusus untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab, dana tersebut digunakan untuk hal yang terkait dengan musibah seperti kecelakaan kapal yang menimbulkan korban jiwa, peran panglima la’ot Aceh sangatlah besar dalam menjaga lingkungan perairan serta dalam memerangi illegal Fishing di Aceh.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini