Program Wisata Air Banda Aceh tak Jalan

Program wisata air yang dikembangkan Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh di sepanjang aliran Krueng Aceh pascatsunami hingga kini tak jalan. Sehingga empat dermaga pendukung program Water Front City itu kini juga telah rusak.
Warga menikmati waktu senja di salah satu kafe di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh, Rabu (13/7/2016). Selain keindahan panorama pengunjung juga bisa menikmati wisata kuliner di pantai tersebut. SERAMBI/BUDI FATRIA
Warga menikmati waktu senja di salah satu kafe di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh, Rabu (13/7/2016). Selain keindahan panorama pengunjung juga bisa menikmati wisata kuliner di pantai tersebut. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Anggota DPRK Banda Aceh, Mukminan SE yang dihubungi Serambi, Kamis (14/7) mengatakan, Pemko Banda Acehseharusnya tidak ‘mati kreativitas’ dan dapat merawat empat dermaga yang dibangun dengan dana Otonomi Khusus (Otsus) tahun 2008 dengan dana sekitar Rp 4 miliar atas usulan PemkoBanda Aceh pada Dinas Bina Marga Provinsi Aceh itu.
“Dermaga sudah ada, tinggal menjaga, merawat dan mengembangkannya menjadi wisata air yang menjadi hiburan bagi masyarakat Kota Banda Aceh. Kini justru dermaga itu terbengkalai dan terancam hancur. Kan sayang, karena dermaga itu dibangun dengan dana yang cukup besar,” ungkap Mukminan
Ia pun menyarankan kalau Pemko Banda Aceh, tidak memiliki anggaran menjaga, merawat dan mengembangkan wisata air tersebut, sebaiknya dipercayakan pengelolaan bagi swasta. “Pasti banyak pihak swasta yang mau, asalkan hasilnya sama-sama menguntungkan,” ujar Mukminan.
Wali Kota Banda Aceh, Iliza Sa’aduddin Djamal yang dihubungi Serambi, tidak menampik bahwa kondisi dermaga wisata air yang dibangun pascatsunami itu telah mulai rusak. Ia mengungkapkan dermaga wisata air yang memiliki konsep menjadi Krueng Aceh serta anak sungai sebagai jalur transportasi jalur sebagai jalur transportasi air.
“Maka untuk mendukung program water front city, pemko membangun infrastruktur dermaga, pengerukan alur sungai. Terkait dengan pembangunan dermaga dulu dibangun oleh Disbudpar Aceh dari dana otsus kota,” kata Illiza.
Sedangkan untuk pengerukan melalui Dirjen SDA. Wali KotaBanda Aceh juga menjelaskan, uji coba untuk menjadikan sungai sebagai transportasi air sudah pernah dilakukan menggunakan kapal nelayan. Tapi, hal itu hanya berjalan beberapa bulan. Karena itu, lanjut Illiza Pemko Banda Aceh mengharapkan ada investor yang mau menanamkan investasinya. Namun, sampai saat ini belum ada, sehingga beberapa fasilitas dermaga mulai rusak. “Kami akan evaluasi kembali dan kalau tidak ada kapal swasta maka pemko alan mengadakan kapal. Hal ini perlu dievaluasi secara menyeluruh serta melibatkan semua stakeholder agar konsep ini berjalan sesuai rencana,” demikian Illiza.(mir)

sumber : aceh.tribunnews
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini