Ini Bukti Belanda Menyesal Pernah Berperang Melawan Aceh di Jaman Penjajahan

Sebagian dari kita mungkin mengagumi semangat patriotisme dari para prajurit bushido Jepang di era Meiji, atau juga keberanian para Indian di era Perang Sipil Amerika. Namun tahukah anda ternyata bangsa Eropa malah mengangkat topi untuk semangat para pejuang kemerdekaan di Tanah Air.

Tanah Aceh terkenal dengan penduduknya yang sangat menjunjung tinggi martabatnya dan pantang untuk terhina. Bahkan bagi mereka terkadang kehormatan dan harga diri bangsa lebih penting daripada nyawa. Semangat rakyat Aceh inilah yang rupanya membuat Belanda di era penjajahan pusing tujuh keliling. Selama ratusan mereka kesulita untuk bisa menghadapi para pejuang dari Serambi Mekah tersebut, bahkan dilansir dari NBCIndonesia, Belanda mengakui telah menyesal pernah memulai perang di Aceh, karena sebenarnya mereka tak pernah memenangkan perang tersebut.



Perang Belanda di Aceh yang dideklarasikan sejak bulan Maret 1873, dinyatakan oleh negeri Oranje sebagai perang terlama dan termahal yang pernah mereka lakoni. Fakta tersebut rupanya diuangkap oleh banyak penulis Belanda, dalam buku dan jurnal mereka.

Dalam sebuah buku tentang Perang Kolonial Belandadi Aceh terbitan tahun 1977, sejumlah peneliti dan penulis dari negeri Kincir Angin tersebut memberikan kutipannya. Dan rata-rata dari mereka memuji semangat para pejuang Aceh yang begitu gigih dalam melawan invasi pasukan Belanda. Berikut beberapa kutipannya.
Penulis Belanda H.C. Zentgraaff dalam bukunya yang masyur, Atjeh, menyatakan bahwa baik pria maupun wanita di Aceh memiliki semangat  juang yang tinggi.

“Yang sebenarnya ialah bahwa orang-orang Aceh, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa; mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh perang terkenal kita”.

Penulis Belanda yang lain, A.Doup, dalam buku berjudul Gedenkboek van het Korps Marechaussee 1890—1940 (Mengenang Korps Marsose) yang terbit tahun 1942, pada halaman 248 menulis;

“Kepahlawanan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya, seperti yang diperagakannya selama perang Belanda di Aceh menimbulkan rasa hormat pada pihak marsose serta kekagumannya akan keberanian, kerelaan gugur di medan juang, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis-habis akalnya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat perang yang murni asli, sementara daya pengamatannya sangat tajam. Ia mengamat-amati dengan cermat setiap gerak-gerik pemimpin brigade, dan ia tahu benar pemimpin-pemimpin brigade mana yang melakukan patroli dengan ceroboh serta mana pula yang selalu siap siaga dan berbaris secara teratur).”

16523919169_3014683b2f_b

Komentar berbeda diungkap Paul van’t Veer dalam bukunya De Atjeh-Oorlog (Perang Aceh) yang terbit tahun 1969. Buku ini adalah salah satu buku yang kerap menjadi rujukan ketika menulis Perang Belanda di Aceh. Pada halaman 293, Paul dimana Paul menilai Perang Aceh sangat merugikan ihak Kolonial.



“Perang Belanda di Aceh tidak berakhir pada tahun 1913 atau 1914. Dari tahun 1914 terentang seutas benang merah ke tahun 1942, sebuah jejak pembunuhan dan pemukulan sampai mati, dari perlawanan di bawah sampai ke atas tanah yang menyebar luas sedemikian rupa dari tahun-tahun 1925 sampai tahun 1927 dan kemudian lagi dalam tahun 1933 sehingga kemudian terjelmalah pemberontakan-pemberontakan setempat. Puluhan “pembunuhan Aceh” yang terjadi di antara tahun-tahun itu cukup diketahui di seluruh Hindia Belanda. Pada masa-masa belakangan ini disadari bahwa benang merah itu menjurus dari tahun 1914 ke tahun 1942 sehingga sejarahnya sejak tahun 1873 sampai dengan tahun 1942, yakni saat orang orang Belanda meninggalkan daerah Aceh untuk selama-lamanya, harus dianggap sebagai sebuah perang Belanda yang besar di Aceh atau boleh juga disebut sebagai sebuah deret, terdiri dari empat atau lima buah peperangan Belanda di Aceh yang berbagai-bagai sifatnya.”

 “Aceh adalah daerah terakhir yang ditaklukkan oleh Belanda dan merupakan daerah pertama yang terlepas dari kekuasaannya. Kepergian Belanda dari sana pada tahun 1942 adalah saat terakhir ia berada di bumi Aceh. Selama 69 tahun, Belanda tak henti-hentinya bertempur di Aceh dan ini sudah lebih daripada cukup.”

Sementara Pierre Heijboer, dalam buku Klamboes, Klewangs, Klapperbomen, yang terbit tahun 1977 pada halaman 137 menulis;

“Orang-orang Aceh ternyata bukan saja pejuang-pejuang yang fanatik, akan tetapi mereka juga tergolong pembangun kubu-kubu pertahanan yang ulung sekali.”

Sumber : suratkabar.id
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini