Floresta-Singapora Akan Segera Fungsikan Kembali PT. KKA


Lhokseumawe -- Floresta PTE Limited, sebuah perusahaan asal Singapora direncanakan akan mengoperasikan kembali PT. Kertas Kraft Aceh. Hal itu diutarakan oleh Presiden Direktur Floresta, Jouko Virta, saat menggelar pertemuan dengan pemerintah Aceh, serta pihak direksi PT. KKA, di areal pabrik, Rabu (26/10).
Jouko menyebutkan, diperkirakan butuh waktu satu tahun untuk menghidupkan pabrik PT. KKA. Tentunya, hal itu setelah adanya keputusan dari pemerintah terkait kerjasama investasi tersebut. "Yang paling penting sekarang adalah kita menanam kembali hutan pinus sebagai bahan baku pembuatan kertas," ujar Jouko.
Jouko menyebutkan, dirinya hadir ke Lhokseumawe bersama 7 tim ahli independen sekaligus untuk menghitung besaran biaya yang dibutuhkan untuk mengaktifkan kembali PT. KKA. Dalam perkiraan awal, total investasi mencapai 60 juta USD untuk pembiayaan menghidupkan kembali pabrik sekaligus pemeliharaan dan penanaman kembali pohon pinus.
Jouko mengatakan, pihaknya menawarkan opsi agar pabrik bisa lebih cepat difungsikan, di mana masyarakat nantinya akan dilibatkan untuk menanam tanaman pinus jenis merkusi. Jika itu terjadi, maka diperkirakan, ada 10 ribu lebih masyarakat akan menerima manfaat dari beroperasinya PT. KKA.
Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf yang ikut mendampingi rombongan investor, menyebutkan nantinya masyarakat ikut menanam pinus di lahan mereka, dan kayunya dijual kepada pabrik sebagai bahan baku pembuatan kertas. Hal tersebut sebagai bagian dari usaha pemerintah dan pihak swasta membuka lapangan kerja sehingga masyarakat ikut merasakan manfaat dari aktifnya PT. KKA.
"Kita sedang menilai bagaimana desain yang bagus yang nantinya bisa kita pakai. Tujuan dari program ini untuk menarik masyarakat terlibat dalam kegiatan ini dan tentunya mereka mendapatkan manfaatnya," ujar Muzakir Manaf.
Selain produksi kertas, Wagub juga menawarkan berbagai bentuk investasi lain yang juga bisa dikembangkan di Aceh. Aceh, kata Muzakir Manaf, kaya akan alamnya. "Kita punya sawit, potensi panas bumi, ikan segar serta potensi wisata yang mungkin juga bisa dikembangkan di Aceh," ujar wagub.
Menjawab hal itu, Jouko mengaku gembira atas kepercayaan pihak Pemerintah Aceh kepada mereka. Namun saat ini, kata Jouko, Floresta hanya akan fokus pada pengembangan PT.KKA. Nantinya, perusahaannya mengaku tertarik untuk berinvestasi pada pembuatan listrik dari bahan baku kayu atau biomass.
"Pada tahap selanjutnya mungkin bisa kita jajaki. Jika itu berhasil, pastinya masyarakat bisa menanam berbagai jenis kayu lainnya," ujar Jouko.
Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud al-Haytar, mengatakan, tujuan utama dari pelibatan Floresta sebenarnya adalah membangun kembali hutan-hutan Aceh yang mulai tandus tak berpohon. Hutan Aceh, katanya, punya potensi besar untuk pengembangan penanaman pinus jenis merkusi, pinus terbaik untuk pembangunan kertas.
Hutan Pinus Merkusi terbesar di Asia, kata Malik Mahmud, terletak di Aceh yaitu di Kabupaten Aceh Tengah. Ia menyebutkan pembangunan pohon pinus akan dilakukan secara paralel dengan pembangunan pabrik. Jika hal tersebut berhasil, maka diperkirakan akan ada 100 ribu hektar lahan (lahan pabrik dan lahan warga) dengan perkiraan 3000 tenaga kerja di pabrik serta puluhan ribu pekebun.
"Hutan lestari, masyarakat bisa merasakan manfaat dan pabrik bisa kita hidupkan kembali," ujar Malik Mahmud.
Sementara itu, Ir. Andriano Direktur Utama PT. KKA, menyebutkan sejak berhenti beroperasi pada akhir Desember 2007, tercatat ada 935 karyawan yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Kini, tercatat ada 80 karyawan yang masih bekerja yang bertugas merawat aset perusahaan.
"Sejak berhenti beroperasi, diputuskan untuk pemeliharaan saja dengan harapan pabrik ini bisa dioperasikan kembali. InsyaAllah dalam waktu dekat pabrik akan segera kita fungsikan kembali," ujar Andriano.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini