Situs Bersejarah Ungkap Kejayaan Aceh Masa Lalu

Banda Aceh - Kejayaan masa lalu Aceh, seperti peran dan interaksinya dalam komunitas dan perdagangan internasional terbukti dari penemuan berbagai situs bersejarah di Aceh.

Sejumlah peneliti sejarah Aceh membeberkannya dalam konferensi internasional, The 1st International Conference on Islamic Studies (ARICIS I). Konferensi berlangsung di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, yang berakhir tadi malam, Kamis, 27 Oktober 2016.

Ketua panitia ARICIS I Sri Mulyani mengatakan konferensi itu merupakan perhelatan ilmiah akbar pertama yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu dan kajian Islam. Para ahli dan akademisi nasional dan internasional memaparkan hasil kajian mereka. “Kami berharap pertemuan ilmiah seperti ini tidak berhenti di sini,” ujarnya, Kamis malam, 27 Oktober 2016.

Hasil kajian kejayaan Aceh masa lalu, antara lain diuraikan peneliti dari Earth Observatory Singapore Nanyang Technological University, Singapura, McKinnon dan Yewseng. Keduanya memaparkan penelitiannya dengan tema Rethinking Islamic Civilization: Reawakening Muslim Social Ethics, Intellectual, and Spiritual Tradition.

Keduanya melakukan riset dengan mengambil sampel di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, yang meliputi 43 desa di pinggir pantai. Termasuk mengkaji dampak dari sejarah tsunami di beberapa wilayah ini selama beberapa milenium terakhir.

Menurut Mckinnon, ada tiga kategori utama nisan yang ditemukan di beberapa desa. Pertama adalah Nisan Plang Pleng, yang diidentifikasi berasal dari akhir abad ke-13 hingga 1480-an. Kedua adalah Batu Aceh, yang berasal pada 1480-an hingga abad ke-19, dan Batu Sakrah atau Batu Sungai. “Saat ini kami sudah mencatat 5.077 batu nisan, termasuk 35 nisan Plang Pleng,” ujarnya.

Adapun Yewseng memaparkan jenis-jenis keramik masa lalu yang ditemukan di Aceh. Di antaranya keramik Cina yang ditemukan di beberapa daerah di Aceh. Keramik itu berasal dari berbagai provinsi di Cina, yang diperkirakan berasal dari abad ke-12. “Hal ini mengungkapkan sejak abad itu Aceh sudah melakukan transaksi dan perdagangan secara internasional,” ucapnya.

Dosen arsitektur Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Izziah, memaparkan hasil penelitiannya tentang keunikan lingkungan kota dan desa Aceh. Keunikan itu menandai kekayaan tradisi budaya Aceh.

Kajian yang dilakukan wanita pakar arsitektur ini lebih menitikberatkan pada perkembangan masjid di Aceh sejak era pra-kolonial hingga pasca-kolonial. “Hasil kajian kami menyimpulkan bawa isu-isu tentang lintas budaya, perpaduan aspek sosial dan aspek politik memiliki berbagai dampak dalam bentuk masjid-masjid di Aceh,” tutur Izziah.

Selain kajian tentang interaksi sejarah Aceh dengan peradaban dunia, salah seorang pembicara kunci lain, Imtiyaz Yusuf, memaparkan tentang peradaban dan agama-agama masyarakat Asia saat ini.

Imtiyaz yang merupakan akademisi dan Direktur Center for Buddhist-Muslim Understanding, Universitas Mahidol, Thailand, itu lebih memfokuskan pada interaksi dan dialog antara umat muslim dan Buddha.

ADI WARSIDI - TEMPO.CO
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini