KUBAH TANPA MESJID YANG HANYA ADA DI ACEH



Walaupun sudah lama berlalu, kejadian tsunami masih menyimpan beragam kisah dan bukti dahsyat tragedi tersebut. Di Banda Aceh, situs tsunami lumayan mudah untuk dilihat dan dikunjungi. Begitu juga dengan Aceh Besar, yang jaraknya bersebelahan dengan Banda Aceh. Dua tempat ini, bisa dikatakan termasuk lokasi terparah hantaman tsunami. Sangking parahnya, banyak bangunan rusak dan rata dengan tanah.

Banyak cara untuk melihat bagaimana kedahsyatan peristiwa itu. Selain berkunjung ke Museum Tsunami yang letaknya di tengah kota Banda Aceh, pengunjung bisa melihat langsung situs di beberapa titik yang tersebar di beberapa sudut. Umumnya berada di desa pinggiran pantai. Salah satunya adalah Kubah Tsunami.

Seperti namanya, situs ini berbentuk kubah masjid. Namun letaknya tidak seperti kebanyakan masjid yang ada. Kubah Tsunami ini adanya di tengah hamparan sawah yang hijau, bersisian dengan lereng bukit yang menjulang di belakangnya. Air bah yang menghantarkannya kemari. Tepat di tengah sawah, dan jauh dari pemukiman penduduk.

Menurut cerita, dulunya kubah ini merupakan bagian dari masjid di desa Lamteungoh, Aceh Besar. Desa Lamteungoh letaknya berdekatan dengan laut lepas. Desa ini terbilang paling parah kerusakannya. Air tinggi mencapai beberapa meter menghancurkan segala yang ada, termasuk masjid di desa ini.

Area Kubah Tsunami kini dipagari. Areanya memang tidak besar, tapi cukup mampu menampung pengunjung yang datang. Saat saya melihatnya lebih dekat, ternyata bentuk kubah ini masih utuh. Tidak terlihat kerusakan di bagian sisi bangunannya. Tinggi bangunannya berkisar 3-4 meter. Ada ruang kosong diantara cembungan kubah dan bekas penyangganya. Disisinya, dikelilingi tiang kecil yang berbentuk pintu masjid yang kerap terlihat pada masjid kebanyakan.
Di ruang kosong itu, saya bisa melongok untuk melihat ke dalamnya. Suara terasa lebih bergema jika berbicara. Di bawah kubah, saya bisa melihat tapal yang menyerupai teras. Teras ini diyakini adalah tiang penyangga kubah sekaligus penghubung dengan bangunan di bawahnya.

Selain kubah, area ini juga dibangun balee (ruang pertemuan berbentuk rumah panggung). Balee ini selain digunakan sebagai tempat peristirahatan pengunjung, juga digunakan sebagai galeri foto. Ada banyak foto yang bisa dilihat di balee ini. Umumnya foto-foto kejadian tsunami di beberapa lokasi, termasuk juga foto saat kubah ini ditemukan. Selain itu, di kawasan ini juga dibangun kios yang menjajakan beragam souvenir Aceh.

Lokasi Kubah Tsunami ini sekitar 30-45 menit dari pusat kota Banda Aceh. Berkunjung kemari tidak dikenakan biaya tiket masuk. Hanya ada celengan kecil yang menampung sumbangan pengunjung untuk perawatan lokasi ini.

Selain melihat situs bersejarah ini, pengunjung juga bisa merasakan alam hijau desa Gurah. Pemandangan disini menyejukkan mata. Sawah hijau dilatari barisan bukit yang padat pepohonan. Belum lagi bisa melihat langsung aktivitas petani selagi menggarap sawah. Suasana ini semakin teduh dengan bau tanah basah menyeruak, ditambah dengan hembusan angin menyejukkan. Bertandang kemari, seakan sulit untuk beranjak pulang.

https://keepo.me/exploringnation/melihat-kubah-tanpa-masjid-di-aceh-besar
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini