TRADISI UNIK DI ACEH SAAT LEBARAN



Festival Teut Budei Trieng atau Perang Meriam Bambu di Pidie sudah menjadi tradisi tahunan saat menyambut datangnya hari raya Idul Fitri, pesta yang bernuansa ledakan dan dentuman yang dikeluarkan dari mulut batang bamboo tersebut digelar setiap malam kedua lebaran. Sebelum tahun 2010, perayaan tersebut digelar setiap malam pertama hari raya, seiring dengan kondisi daerah dan hasil musyawarah bersama, pesta tersebut diganti menjadi malam kedua.

Setiap diadakannya festival, ratusan bamboo di potong untuk dijadikan Meriam, hal itu dilakukan pada H-2 lebaran atau saat datangnya hari Meugang, yaitu tradisi memakan daging dan membagikannya keada fakir miskin di Aceh. Festival Meriam bamboo trendnya hanya di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Baro, tepatnya di sepanjang wilayah sungai Gampong Are, Garot, Klibet hingga Paloh, Kabupaten Pidie.


Ribuan warga baik muda dan mudi serta dewasa sampai anak-nak dari berbagai daerah mendatangi lokasi sepanjang sungai tersebut untuk melihat ferstival itu, begitu juga para pecinta fotografi, mereka kerab memburu moment yang hanya terjadi sekali dalam setahun itu.

Jika kita mendatangi lokasi tersebut, akan terlihat ratusan bamboo dihias dengan berbagai bentuk, ada yang menyerupai mobil tank, kapal perang dan pesawat tempur, diarea tersebut juga dibatasi oleh berbagai janur kuning, sangat jelas terlihat itu merupakan suatu acara yang telah dipersiapkan dari jauh-jauh hari.

Meskipun barisan Meriam bamboo terlihat membentang sepanjang Gampong-gampong, yang hanya dibatasi sungai, itu bukanlah perang sebenarnya, tidak ada saling melukai dalam peperangan tersebut, hanya masing-masing wilayah mempertahankan kualitas suara dentuman yang dihasilkan dari Meriam, semakin besar suara dentuman, maka semakin riuhlah penghargaan yang diberikan oleh penonton, begitu juga sebaliknya jika menghasilkan suara yang kecil maka penonton juga akan menyorakinya.

Meriam bamboo disini khusus disediakan pemuda atau panitia Gampong untuk kalangan anak dibawah umur, ada yang berbayar setiap anak yang ingin mencoba ada juga yang disediakan gratis bagi mereka. Sangat berbeda dengan Meriam karbet yang juga berada dilokasi yang sama, Meriam yang terbuat dari drum minyak tersebut khusus bagi orang dewasa, karena sangat berbahaya bagi anak-anak, tentunya dengan dentuman yang 20 kali lipat dari besar suara Meriam bamboo.

“Tradisi ini sudah aja sejak dulu, saat konflik juga tetap kita lakukan disini, setiap lebaran, hanya saja tidak sebanyak sekarang pengunjung dan pelakunya, karena konflik. Kalau Meriam karbet baru-baru saja paska damai, dulunya Meriam bamboo,”

Sebelumnya, tradisi ini dilaksanakan setiap malam datangnya Idul Fitri, namun karena pertimbangan kondisi masyarakat, maka dipindahkan menjadi malam kedua. “awalnya malam pertama langsung dimulai, tapi karena adanya warga yang merekomendasikan jangan dilakukan malam pertama, karena banyaknya keluarga yang pulang kampung, tak bisa tidur dan lain hal, maka kesepakatannya dipindahkan menjadi malam kedua,”

tradisi Teut Budei Trieng, yang sudah berlangsung dari dulu secara turun temurun, merupakan gambaran karakter masyarakat Aceh yang siap berperang, selain itu juga bertujuan memberikan pelatihan bagi generasi muda agar tahan tidak gentar dalam menghadapi rintangan dalam menjalani kehidupan. Meskipun tradisi itu sudah kurang tepat saat ini, jika dilihat dari segi kenyamanan masyarakat secara umum.

https://steemit.com/travel/@zianmustaqin/mengabadikan-teut-budei-trieng-di-pidie
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

Tentang Kami | Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2017. Acehinfo.com - Berita Aceh Terkini