Kenapa ACEH di jajah Belanda ??




pada abad ke 19 Aceh merupakan sebuah kerajaan yang masih berdaulat serta memiliki relasi diplomatik dengan berbagai negara penting . Sebuah kapal perang belanda mendarat di pelabuhan Aceh. Kapal yang mengangkut kontrolir pemerintah dalam negeri E.R Krayenhoff tersebut datang sebagai perwakilan gubernur jendral Hindia Belanda. Adapun motif awal kedatangan Krayenhoff didasari akan peluang pulihnya persahabatan antara Belanda dan kerajaan Aceh yang saat itu dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah.

Setelah berbulan kedatangannya, kemakmuran Aceh terancam khususnya setelah Inggris yang sebelumnya membiarkan Aceh berdaulat hendak melakukan perubahan di Sumantra. Sedengkan Belanda berimprovisasi untuk menjadikan daerah yang langsung berbatasan dengan Aceh tersebut sebagai aset ekonomi liberal pengganti sistem Tanaman Paksa yang telah dihapus sebelumnya.

Begitu maraknya persaingan ekonomi antar bangsa Eropa, akhirnya Inggris mengambil kebijakan agar Sumatra dan sekitarnya jatuh ke tangan penjajahan Belanda. Hal itu tak terlepas dari destinasi politik Inggris yang beranggapan bahwa Aceh lebih baik dibawah kekuasaan Belanda dari pada jauh ke tangan Amerika atau Perancis yang yang memiliki riwayat permusuhan hebat dengan negara beribukota London tersebut.


Belanda dan Inggris kemudian sepakat bekerjasama dengan pertukaran kawasan jajahan.  Inggris memperoleh Pantai Gading dari Belanda sementara Belanda memperoleh Aceh sebagai bentuk kompesasinya. Padahal pada perjanjian sebelumnya, nama Aceh tidak terkait dengan enpansi Inggris terhadap Sumatra yang menjadi aset pertukaran kekuasaan.


Pada 2 November 1871 pertukaran daerah jajahan Inggris-Belanda yang dikenal dengan Traktat Sumatra akhirnya menemukan titik temu, di dalamnya berisikan berbagai perjanjian yang salah satunya adalah kesediaan Inggris yang mengizinkan Belanda dalam perluasan wilayah ke seluruh Pulau Sumatra termasuk Aceh.


Traktat Sumatra merupakan awal mimpi buruk bagi kerajaan Aceh yang sebelumnya lebih kondusif kala Inggris menduduki Sumatra. Dua tahun berselang, pasukan militer Belanda mulai melakukan penyerangan ke Aceh yang di pimpin oleh Johan Harmen Rudolf Köhler sebagai panglima ekspedisi. Sengitnya perlawanan Aceh, Jendral Köhler menghembuskan nafas terakhirnya di perkarangan Mesjid Raya Baiturrahman. Tewasnya tokoh penting ekspedisi tersebut membuat Belanda semakin meningkatkan frekuensi penyerangannya terhadap Aceh. 

Gejolak perang Aceh-Belanda tercium oleh Nino Bixio yang secara literatur memiliki dendam kusumat terhadap Aceh. Dengan motif tersebut Ia mengirimkan bantuan berupa kapal pengangkut besar yang berbobot 1.500 ton, Maddaloni. Bantuan tersebut tentu sangat berpengaruh bagi armada tentara Belanda yang dapat meningkatkan quota penyerangan khususnya melalui jalur laut Aceh.

Namun, pihak Aceh nggak mau menuruti ultimatum itu begitu saja. Belanda menganggap bahwa Aceh membangkang terhadap perintahnya sehingga di tanggal 26 Maret 1873 Belanda yang diwakili oleh Komisaris Nieuwenhuijzen mengumumkan perang melawan Aceh. Sebenarnya, Aceh sudah melakukan beberapa persiapan untuk perang ini. Misalnya saja membangun pos-pos pertahanan. Di sepanjang Aceh Besar, sudah dibangun kuta atau benteng yang bertujuan untuk memperkuat wilayah pertahanannya.

Selain kuta, jumlah pasukan Aceh juga ditingkatkan. 3000 pasukan disiapkan di daerah pantai dan 4000 pasukan disiapkan di wilayah Istana. Senjata dari luar Sumatera sudah dimasukkan seperti 5000 peti mesiu dan 1394 peti senapan. Itulah awal mula dari Perang Aceh yang berlangsung selama 39 tahun ini. Sudah banyak perjuangan yang dialami oleh pihak Aceh, maka dari itu kita juga harus mempelajari materi ini.

sumber
aceh.net
https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Sumatra
https://www.merdeka.com/pendidikan/traktat-sumatera-salah-satu-penyebab-terjadinya-perang-aceh.html
Share on Google Plus

Tentang Kami | Pedoman Media Siber Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2019. Aceh Info