Makam Ulama Penulis “Kitab Lapan” Memprihatinkan.

TR Keumangan di Komplek Makam Tengku Syech Muhammad bin Khatib 
Acehinfo- Kompleks pemakaman ulama besar Aceh pengarang kitab Dawaul Qulub  yang lebih populer dengan sebutan ‘kitab lapan’ karena berisi delapan karangan kitab yang ditulis oleh beberapa ulama sekaligus, Tengku Syech Muhammad bin Khatib Langgien di Gampong Langgien Dayah Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya Provinsi Aceh, sangat memprihatinkan.

Sebagai seorang ulama yang hidup pada abad ke 18 pada masa masa Sultan Husen Alaidin Johar Alamsyah memimpin kerajaan Aceh yang di perkirakan pada tahun 1209 – 1238 Hijrian atau pada tahun 1795 – 1823 Masehi. Maka seharusnya sebagai bentuk penghormatan atas jasa  dan sumbangsih pemikiran serta karya besar Tengku Syech Muhammad bin Khatib Langgien yang masih dapat  di rasakan oleh dunia Islam terutama di Aceh maka sepatutnya Pemerintah harus merawat dan memugar komplek makam salah satu ulama besar Aceh ini. Hal ini disampaikan oleh Anggota DPR Aceh, Teuku Raja Keumangan ketika berziarah ke makam Tengku Syech Muhammad bin Khatib Langgien Jumat (1/1)

“Atas jasa dan sumbangsih pemikiran serta karya Tengku Syech Muhammad bin Khatib Langgien yang masih dapat kita rasakan dalam dunia Islam terutama di Aceh maka sebagai bentuk penghormatan kita sepatutnya komplek makam ini harus di rawat dan pugar lebih baik”Katanya.

Politisi Partai Golongan Karya yang juga anggota komisi V DPR Aceh ini meminta agar Pemerintah Aceh dalam hal ini Gubernur Aceh untuk dapat memberikan perhatian terhadap komplek makam ulama Aceh ini.

Karya besar besar Tengku Syech Muhammad bin Khatib Langgien adalah  Kitab “Dawaul Qulub”, Kitab ini  bisa di terjemahkan berarti obat segala hati dari segala aib. Dari segi kandungannya secara keseluruhan banyak persamaan dengan Hidayatus Salikin karya Syeikh Abdus Samad Palembang, dan Dawaul Qulub menjadi kitab ke tujuh dalam Kitab Jam’u Jawami’il Mushannifat atau yang di kenal dengan nama kitab lapan.

Dalam kitab Lapan terdapat beberapa kitab yang telah di himpun dan disatukan oleh Syeikh Ismail bin Abdul Mutthalib Al-Asyi, di antaranya:

  1. Hidayatul Awan karya Syeikh Jalaluddin bin Kamaluddin Asyi, Faraidh al-Quran tanpa pengarang.
  2. Kasyiful Kiram karya Syeikh Muhammad Zain bin Jalaluddin Asyi, Talkhisul Falah karya Syeikh Muhammad Zain bin Jalaluddin Asyi
  3. Syifaul Qulub karya Arif Billah Syeikh Abdullah Baid Asyi, Mawaizhul Badi’ah karya Syeikh Abdur Rauf Fansuri As-singkily.
  4. Dawaul Qulub karya Syeikh Muhammad bin Syeikh Khatib Langien Asyi, I’lamul Muttaqin karya Syeikh Jamaluddin bin Syeikh Abdullah Asyi.

Tengku Syech Muhammad bin Khatib Langgien menggambarkan bahwa Ulama Aceh dulu begitu produktif serta memberi konstribusi yang amat sangat berarti bagi pemikiran keislaman di Aceh dan sekitarnya. Kita berharap agar masyarakat pada umumnya, terutama Pemerintah untuk mengapresiasi karya para ulama-ulama Aceh masa lalu dan masa sekarang.

 

Share on Google Plus

Tentang Kami | Pedoman Media Siber Privacy Policy | TOS | Disclaimer | Site Map | Advertise | Copyright © 2019. Aceh Info